Selamat Datang di Blog Dina Cerpen

Share |

Dedes - Oleh: D. Ipung Kusnawi

Adsense Indonesia





Ya, Maha Pencipta Segala Adegan,
Teperdaya atau memperdaya
Menjadi sah-sah saja!

BAHKAN untuk malam ini. Malam ketika sebagian gelapnya tergores oleh sekelebat bayangan tubuh tegap yang mengendap-endap, menyelinap dalam gelap. Gerakannya yang cepat begitu melesat bagai anak panah lepas dari busurnya. Sebuah gerakan yang sulit ditangkap oleh mata biasa. Dua orang prajurit penjaga kamar Akuwu Tunggul Ametung hanya merasakan desir angin tipis menerpa wajah mereka. Menebarkan rasa kantuk yang teramat sangat. Kabut dini hari seolah membantu membiaskan sosok tegap itu hingga dia leluasa membuka pintu kamar hanya dengan sekali embusan napas. Sebilah keris yang terselip di pinggangnya memantulkan sinar kuning keemasan begitu tertimpa serpihan cahaya bulan yang lolos dari celah daun semboja.

Iyem, emban tua pengasuh setia Dedes, sedang terlelap di biliknya ketika sosok itu meloloskan tubuh tegapnya memasuki kamar dalam sekali lompat. Dua manusia dengan napas memburu, berbasuh keringat meski dingin menulang begitu menggigit. Sosok itu perlahan meraba keris yang terselip di pinggangnya. Sepasang matanya tampak begitu nyalang di bawah remang nyala pelita yang terselip di dinding kamar. Sorot mata yang lebih dulu menusuk tajam ke sosok Tunggul Ametung yang masih lelap dengan dengkurnya. Tunggul Ametung yang juga sedang diresahkan Iyem dalam mimpinya.

Malam itu, Iyem merasa sedang berdiri gemetar di puncak menara. Tempat biasa Tunggul Ametung bersemadi. Tatapannya terpana melihat Tumapel yang berubah menjadi sebuah lautan berwarna merah kental. Sangat luas. Dan Tunggul Ametung yang masih lelap, tampak tak berdaya dalam pusaran arus hingga tenggelam tak tersisa. Ingin rasanya Iyem menarik tubuh nahas itu. Namun derasnya arus seolah mematok kakinya begitu kuat. Tenggorokan Iyem seperti tercekik. Suaranya hanya sebatas sengal yang tertahan. Alunan bunyi yang hampir serupa dengan dengkur Tunggul Ametung yang segera berubah menjadi lenguhan pendek ketika sebilah keris bersarang tepat di dadanya. Seulas senyum segera merekah pada bibir sosok tegap yang kini tengah mengelapkan ujung keris pada ujung kain yang dikenakan Tunggul Ametung. Malam segera hening dan mencekik. Bulan sabit di atas langit sana tampak berkilau keperakan. Indah namun terasa mencekam.

***

MALAM sudah merambat menjauhi larut. Embun mulai mengental, melayang- layang menempel di dedaunan. Di dalam, kamarnya, Iyem merapikan rambutnya yang terurai kusut. Mimpi itu telah memaksanya merampungkan tidurnya malam itu lebih cepat. Beberapa pikiran buruk segera saja berlompatan dari kepalanya.

Sebuah ketukan pelan di pintu kamarnya memecahkan kesunyian malam di kompleka kaputren. Iyem bergegas memburu pintu dan membukanya. Sebuah wajah gelisah muncul di depannya. Icih, emban muda yang bertugas menyiapkan kebutuhan jasmani Dedes, mengangguk hormat sebelum berbicara.

"Ketiwasan, Mbakyu, ketiwasan! Gusti Tuan Tunggul Ametung..." emban muda itu tidak mampu meneruskan kata-katanya. Tapi air matanya lebih fasih menerjemahkan kata-kata yang akan dia ucapkan selanjutnya.

"Bagaimana dengan Tuan Putri?"

"Beliau masih belum juga keluar dari kamarnya."

"Siapkan saja air hangat untuk mandi Tuan Putri. Antarkan ke kamarnya, aku juga langsung ke sana!"

Icih mengangguk pelan, lantas bergegas meninggalkan Iyem yang masih terpaku di pintu.

"Oalah, Gusti Hyang Widi. Semoga ini bukan sasmhita buruk," dengus Iyem harap-harap cemas. Matanya nanar menatap beberapa prajurit Pakuwon yang melangkah tergesa-gesa menuju kamar Tuan Akuwu Tunggul Ametung. Sebuah nama terlontar dari bisik-bisik yang dia dengar: Arok!

Iyem berdebar. Langkahnya bergetar menuju bilik kamar Dedes. Meyakinkan bahwa apa yang telah terjadi bukanlah wujud kutuk sumpah Binahut Angeris-nya Mpu Parwa, ayah majikannya itu.

***

KAU masih belum bisa memicingkan mata ketika desah napas Iyem terdengar lirih di luar kamar. Separuh perasaanmu mengharapkan agar bisa segera terlelap. Separuh lagi mencubit-cubit dengan kesal agar kau tetap terjaga. Kesenyapan telah merenggutmu pada pengembaraan batin yang tak kunjung berujung. Pertemuanmu dengannya malam tadi masih menyisakan keringat berahi yang bersarang di sekujur tubuh, meresap melalui pori-pori hingga menembus di kedalaman hati. Memberikan rasa damai yang sesak. Atau sesak yang membuat damai. Membuncahkan kejujuran yang selama ini terpendam begitu dalam: Arok memang laki-laki! Arok sungguh laki-laki!

Tapi naluri istri tak bisa dimungkiri. Kau Sang Ardhanareswari, yang digilai laki-laki itu, masih belum bisa melupakan dengkur suamimu bila malam-malam dingin memerlukan dekapanmu untuk menghangatkan tubuh tambunnya. Bahkan ketika laki- laki itu meninggalkan tubuhmu malam tadi dengan keresahan yang melelahkan. Bayang wajah suamimu seakan mengusikmu untuk segera menuntaskan gelora kenikmatan yang kautemukan dalam dekapan laki-laki anak pungut Bango Samparan.

Tak ingin kemarahan suamimu meluapkan batas kesabaranmu, kau memang segera berkemas membenahi busanamu. Meski laki-laki itu masih menginginkan melumat betismu dengan tatapannya, kau tetap bergeming. Kau tak ingin lebih jauh menyerahkan sebagian miliknya di tubuhmu pada laki-laki itu meskipun dia sering menggunakan kekuasaannya sebagai suami dan penguasa Tumapel untuk memperkosamu. Sekian tahun kau mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya, kau memang mulai memahami wataknya yang sangat takut kecewa.

Apa yang dia inginkan memang harus segera dikabulkan. Termasuk ketika menginginkanmu menjadi istrinya. Setra Panawijen yang tenang menjadi saksi bisu ketika dia memaksamu membawa ke Tumapel. Waktu itu kau sempat menolaknya dengan halus karena ayahmu, Mpu parwa, sedang tidak ada di rumah. Di benakmu tak bisa membayangkan bagaimana kecewanya orang tua yang telah menjadikanmu lahir ke dunia itu mengetahui bahwa anak gadisnya diculik orang.

Tapi lagi-lagi dia memang laki-laki yang takut kecewa. Jumawanya sebagai penguasa telah membuatnya lupa bahwa hakiki perempuan tak bisa diajak serta diperkosa. Dan perasaan itulah yang kau pendam sekian lama hingga akhirnya di hutan Isaboji, kau melihat panglima baru di Tumapel pengganti Kebo Ijo itu melirik betismu yang tersingkap dengan ketakjuban yang teramat sangat. Darah mudanya yang mendesir bisa kaurasakan ketika tubuh tegapnya tampak begitu bergetar manakala kau mengulurkan tangan untuk minta bimbingannya turun dari kereta kuda. Kau tertawa dalam hati, merayakan kemenangan yang selama ini jarang kaudapatkan. Dan kau mengingat semua itu sebagai awal getar di hatimu menghadapi sosok laki-laki. Ketika kau tidak lagi diperdaya oleh desah penguasa, melainkan rasa cinta.

***

AKU memang perampok. Sejak awal kelahiran, alam telah menyenandungkan kidung perampok sebagai pengantar tidurku. Tempat tinggalku yang beralaskan bumi dan beratapkan langit menjadikan aku bebas berkuasa atas segala yang ada di dunia. Termasuk memiliki jiwa dan ragamu. Kau perlu tahu bahwa mataku mulai capek ketika terus-menerus mencuri lihat betismu di alas Isaboji. Darah berahi memang tak bisa diajak kompromi untuk memilikimu. Dan sejak itu, aku memang telah berniat untuk merampok kamu!

Kekasihku, jangan pernah sesalkan keringat yang telah tumpah karena rasa yang murni dari hati. Aku ingin kau terus menari di hadapanku sepanjang siang dan malam, menurunkan garis keturunan yang berjaya di masa depan. Paman Loh Gawe telah membisikkan sasmhita-nya tentangmu, wahai Sang Ardhanareswari! Kemarilah, dekaplah kehangatan tubuhku, bukankah ini yang selalu kauimpikan? Bertahun kau menderita. Mari agungkan cinta, gerakkan sukma. Hakiki istri segeralah tinggalkan pergi. Ayo sayang, kita terbang. Izinkanlah aku merampok hatimu dengan ketulusan jiwa perampok.

***

SUDAH hampir pagi, Iyem masih juga terjaga di depan pintu kamar Dedes. Ia duduk gelisah. Matanya yang memendam kantuk mengatakan ada sesuatu yang senantiasa bergemuruh di balik pintu kamar itu. Sesuatu yang lembut tapi tidak beraturan. Seperti suara hatinya sendiri. Beberapa butir keringat meluncur pelan dari keningnya ketika beberapa prajurit Pakuwon tampak menggelandang Kebo Ijo ke arah tempat pengadilan. Prajurit-prajurit yang tampak begitu liar di matanya. Ingatannya segera berlompatan ke hutan larangan tempat Arok dan anak buahnya melancarkan aksi rampoknya.

Derit pintu mengagetkan lamunannya. Sesosok tubuh muncul begitu rapuh. Dedes yang rapuh. Kelelahan begitu tampak di matanya yang hampa menerawang. Membiaskan keraguan di hati Iyem untuk membuka percakapan. Dia tak ingin mengeruhkan suasana saat itu bahkan dengan gerak tubuhnya sekalipun. Dan seperti menyampaikan pesan yang mendalam, Dedes hanya membimbing perempuan tua itu untuk berdiri. Ditatapnya mata yang mulai keriput itu penuh keteduhan.

"Arok memang laki-laki! Arok sungguh laki-laki...!" desisnya lirih. Air matanya menitik.


Keterangan:
  • Inspirasi bebas dari pementasan teater dengan lakon Dedes karya/sutradara Aan Sugianto Mas dari kelompok Teater SADO Kuningan, di GK Rumentang Siang, Bandung, tanggal 20 Oktober 2001.
  • Binahut Angeris: Kutukan yang dilontarkan Mpu Parwa ketika mengetahui Dedes dibawa paksa oleh Tunggul Ametung yang isinya menjelaskan bahwa barang siapa yang telah menculik putrinya, ia akan mati karena tikaman keris, dan istrinya diambil oleh yang membunuhnya.
  • Sang Ardhanareswari: Pamor yang terpancar dari kewanitaan Dedes, yang biasanya dijelaskan dengan sinar yang terpancar dari betis.
  • Setra Panawijen: Tempat kediaman Mpu Parwa, letaknya di sebelah utara Malang.
  • Isaboji: Hutan tempat Dedes bertamasya dengan Tunggul Ametung.

D. Ipung Kusmawi, lahir di Kuningan, 18 November 1978, alumnus Universitas Kuningan, aktivis Teater SADO Kuningan dan bergiat di Penerbit Silalatu Kuningan. Kini staf pengajar SMAN 1 Susukan, Cirebon.
Readmore
Share |

Jelaga Bintang

Adsense IndonesiaCerpen dikirim Oleh: D. Dudu AR - Sedu sedan selalu berlirih ketika fajar menyambut shubuh, ”Ya Allah berilah Aku kekuatan untuk membesarkan anak-anakku” Begitulah suara parau yang berdesir di telinga setiap lelap menitik nadir. Terkadang embun mata selalu mencoba merayu haru, jatuh membasahi kasur lusuh. Hal itu selalu menghiasi pagi Bintang bila ibunya menengadahkan tangan dan kepala pada-Nya.

Bintang adalah anak laki-laki dari Pak Muni, seorang pensiunan guru SD, sementara Bu Nura hanya buruh Usaha Kecil Masyarakat tetangga serta Tura adalah kakaknya yang menunggu panggilan kerja dari perusahaan. Rumah bilik bambu, tumbuh tanaman umbi dan ketela sebagai perindang kebun di belakang, serta pemandangan sawah dan pegunungan bak lukisan gambar anak-anak waktu SD, menambah khazanah kedamaian kalbu. Di gubuk kumuh itu, Bintang hanya membantu ibunya, setiap hari pulang sekolah, kegiatannya adalah mengaji, mengerjakan PR dan kegiatan-kegiatan lain yang membanggakan orangtua.

“Tang.. Bintang.. Bantuin Ibu ambil suluh di kebun, untuk masak hari ini!” Perintah Ibu.
Bergegaslah Bintang mengambilkan suluh sesuai suruhan ibunya. “Ini bu, disimpan di dapur” Bintang memberitahu.

Tidak lama kemudian kakaknya datang, “Assalamu’alaikum…”.
“Wa’alaikum salam” Sahut seisi rumah.
“Dari mana, kak?” Tanya Bintang.
“Biasa, latihan di studio musik teman”. Jawab Tura.
“Ooough…” Bintang mencoba mengerti maksud kakaknya.

Terdengar petikan nada yang asing ditelinga, karena jiwa apresiasi memang belum tumbuh di hati dan jiwa. Terlihat sesosok lelaki, memangku alat musik di atas paha, duduk berbangku bambu menghadap sawah.

”Oh..Ternyata kakak yang sedang menarikan jemari dan bernyanyi dengan gitarnya” Tengok Bintang.
Lalu, ”Hentikan, Kak Tura! Jangan main gitar! Itu adalah senandung syaitan dan haram pula hukumnya" Larang Bintang.
”Akh.. kamu, berani menceramahiku! Sana bantu ibu saja!” Tura marah dan tak menggubris.

Bintang memang belum toleran dengan pemahaman agama pada saat itu. Bila yang diterima haram maka dikatakan haram, jika yang diterima halal maka dia sampaikan halal, tanpa tahu sebab akibatnya.

Saat itu Bintang masih kelas 2 SMP, jika melihat orang yang bermain gitar benci dan tidak pernah ikut-ikutan berkumpul bersama mereka. Setahu dia saat itu adalah belajar dan belajar. Di kelas, Bintang dikenal sebagai siswa berprestasi. Rangkingnya berputar-putar saja di 3 besar.

’Tang, nanti sore belajar bersama yuk?” Ajak Doni, sahabat karibnya yang berbeda kelas.

”Emh.. besok sajalah Don, aku banyak PR nih” Jawab Bintang, bermaksud menolak dengan lembut.

Bintang memang memiliki waktu luang sedikit setiap hari, karena tugas di rumahnya banyak, terutama membantu ibunya, yang seperti biasa dia lakukan sehari-hari.

Mega di langit seolah memandangi hari begitu ceria, senjapun menyerupai bidadari memagari sore menambah gairah aktivitas.

”Bintang.. Kak Bintang..” teriak teman-temannya bergerombol.
”Ya.. ada apa teman-teman?” Bintang menyahut.

”Main Sepakbola yuk?” ajakan teman-temannya.

”Siap teman-teman! Tapi, setelah PRku selesai ya.. nanti nyusul ke lapangan dech” Bintang menjelaskan sembari meyakinkan teman-temannya bahwa dia akan ikut bermain.
”Ok dech kalau begitu, ditunggu ya!” sahut teman-temannya.
Setengah jam berlalu, mereka asyik bermain. Namun, dari tadi Bintang belum muncul-muncul tak kelihatan batang hidungnya.

”Teman-teman, kok Kak Bintang belum datang juga ya?!” Kenda mengingatkan.

Timpal Gito, sambil memerintahkan Kenda ”Coba kamu samperin lagi Ken!”

Kemudian Kenda berangkat naik sepedanya, ”hah.. hah.. hah..” Kenda mengayuh dengan hembusan nafas pendek, sisa mengejar bola di lapang.

Baru juga tiba di rumah Bintang, Dia melihat Bintang sedang mencuci piring di samping rumahnya yang terdapat sumur kecil. Karena tidak tega, Akhirnya Kenda malah membantu Bintang menyelesaikan cucian piring.

”Ken, kenapa kamu tak berangkat lagi ke lapang? Nanti teman-teman marah lho!” Bintang mengingatkan. ”Kamu berniat mengajakku lagi ’kan?” Tegas Bintang.

”Sudah, ga apa-apa, aku ingin membantumu supaya cepat selesai. Kita berangkat bersama saja ke lapang” Kenda menenangkan hati sambil menyelesaikan sisa cucian.

Lalu, setelah selesai mencuci piring bersama, Kenda dan Bintang bergegas meninggalkan rumah, karena takut teman-temannya kecewa menunggu dari tadi.

**

Hari, Minggu, Bulan dan tahun serta musim berlalu, sikap bersahaja keluarga sederhana itu tak berubah. Seperti yang lalu-lalu, mereka menjalani hidup tanpa berlebihan.

Namun, ada yang menggundah gulana dalam fikiran Bintang saat beranjak ke kelas 3 SMP. Mungkin karena proses hidup yang mulai meremaja. Bintang, mulai berfikir bahwa seni adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk bersasmita dengan intuisi dibalut keindahan birama jiwa.

Otak kanan mulai menerima kesan-kesan estetis dari getaran nada yang bergumul dalam harmonisasi yang dihasilkan Gitar orange, neck hitam, stem putih dan fret 18, warisan kakaknya.

Mulai saat itu, Bintang jatuh hati pada alat musik berdawai enam, meskipun dia sadar membangkang prinsipnya dahulu. Namun, hal itu tidak menjadi jeda untuk mendalami keinginannya, karena dia sudah proporsional dalam memposisikan konteks ’haram’ yang pernah ia lontarkan ke kakaknya.

Bintang mulai merayu kawan-kawan kakaknya yang biasa nongkrong di warung Pak Tresna, di belakang rumah. Suatu hari Bintang disuruh ibunya belanja ke Warung Pak Tresna, kebetulan di sana ada Mas Andre yang sedang memainkan gitar. Mas Andre adalah teman Tura, sering main ke rumah, kadang-kadan mereka memainkan gitar sama-sama, ngulik tepatnya.

”Mas Andre, minta diajarin dong..!” Pinta Bintang.

”Kapan?” Tanya Mas Andre yang memang miskin bicara.

”Biasanya, mas punya waktu luang kapan?” Bintang balik bertanya.

”Ya sudah, tiap sore saja datang ke rumah ya! Jangan lupa bawa gitar kakakmu itu!” Mas Andre bersedia mengajari.

”Ya, siap mas! Mulai besok aku akan ke rumahmu jam empat sore. Sebelumnya terimakasih ya, Assalamu’alaikum” Dengan girang, Bintang pamitan.

Setiap sore Bintang diajari mas Andre tentang chord-chord standar, kunci yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam memainkan gitar. ”Brang.. breng.. brong.. brang.. breng.. brong” Begitulah nada yang keluar dari strumming permainan gitar Bintang satu minggu pertama di rumah Mas Andre. ”Duh.. jari kamu masih kaku, jangan setengah-setengah kalau pengen cepet bisa!” Keluh mas Andre.

”Ooouh.. gini sih mas, gitarku ’kan ’ga s’lalu ada di rumah, teman-teman kakak suka pinjem, jadi jarang latihan di rumah” Dalih Bintang.

Kemudian Mas Andre memberi solusi, ” Makanya, kalau ada gitar di rumah, manfaatkan sebaik-baiknya, banyakin senam jari agar tidak terlalu kaku!”

Hampir sebulan belajar gitar dari Mas Andre, Bintang mulai jenuh memainkan chord-chord standar yang diberikan tiap hari. Tapi, jarinya sudah lumayan bisa menguasai perpindahan chord-chord yang telah diberikan Mas Andre.

”Mas, minta diajarin lagu dong, buat selingan di rumah, ’kan jenuh ngapalin chord gitu-gitu aja!” Bintang memohon sambil mengeluh atas jenuhnya.

”oh.. iya. Karena kamu sudah bisa chord-chord, sini mas contohin mainin lagu!” Mas Andre memberikan reward atas keluhan Bintang.

”Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang, walau sekejap
Ingin s’lalu dekat denganmu, enggan hati berpisah
Larut dalam dekapanmu, setiap saat, ooouh..

Oh, kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu disini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepiiiiii yeeeeah

Kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu disini...
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepiiiiiii, hanyut di dalam sepiiiii
Ooooooh.... Ooooooh... Kasih jangan kau pergi”

Mas Andre memberikan lagu untuk dipelajari Bintang dari ciptaan Galang Rambu Anarki (Bunga Band). Kebetulan, Bintang sangat menyukai lagu tersebut, karena sentuhannya yang lembut.

Setelah itu, Bintang berhenti, karena Mas Andre berangkat ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.
Tapi sebelum berangkat, Mas Andre berpesan ”Tang, yang rajin belajar gitarnya ya! Banyakin ngulik lagu, atau kursus di Blues Studio, punya Mas Rama”.

Dan, pamitlah Mas Andre kepada Bintang, tidak lama peluk perpisahan mendekap, Bis sudah berada di depan.
Lalu, ”Selamat tinggal Tang.. sampai ketemu lagi!” Teriak Mas Andre.
Sebenarnya Bintang sangat kehilangan ’guru gitar’, jelas dia sedih ditinggalkan Mas Andre. Namun, Bintang bertekad akan kursus di Blues Studio, sesuai saran Mas Andre.


” Do you have the time, To listen to me whine,
About nothing and everything all at once?
I am one of those,
Melodramatic fools
Neurotic to the bone no doubt about it ...............,


She...
She screams in silence
a Sullen riot penitraiting through her mind
Waiting for a sign
To smash the silence with the brick of self-control.....,“

Tak disadari setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Bintang dicengkoki lagu-lagu terutama Basket Case dan She, dari Green Day, Band asal Amerika dengan genre melodic Chord, full distortion dan sedikit Punk Rock, oleh kakaknya.

Saat itu, semakin membuat otak kanan Bintang matang menerima jenis seni, yaitu musik. Pada akhirnya, Bintang sering membayangkan tentang kemegahan panggung konser, disambut riuh tepuk tangan penonton memuja.


Hal ini dialami oleh Bintang pada saat kelas 3 SMP, namun concern pada kewajiban sebagai pelajar, tidak dilupakan. Malah bisa dibilang, SMP adalah masa emas prestasi akademiknya.

Seiring waktu berjalan, EBTANAS atau UAS akan segera dilaksanakan di SMP N 1 Langit Kecamatan Jagad Raya Kota Ruang Angkasa, disana Bintang mengenyam pendidikan tingkat SMP.


Bukannya intensitas belajar meningkat, untuk menghadapi ujian, eh.. Bintang lebih memilih kursus gitar di Blues Studio ketimbang bimbingan belajar.

Suatu hari, tanpa sepengetahuan ibu-bapak, Bintang berangkat untuk mendaftarkan diri sebagai siswa di tempat kursus Blues Studio.

Tiba di Blues Studio, bertemulah Bintang dengan Mas Rama. Namun karena ragu, Bintang bertanya kepada salah seorang petugas yang sedang duduk di tempat pendaftaran sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya,

”Maaf mas, mau tanya, kalau Mas Rama itu yang mana ya? Kebetulan saya tetangga Mas Andre, dia menyuruh saya kursus di sini” Tanya Bintang sambil malu-malu, karena banyak siswa lain yang diantar ibu-bapaknya sambil menenteng alat musik sendiri.

Sementara, Bintang hanya membawa gitar accoustic butut warisan kakaknya.

”Oh, kamu Bintang, ya ya ya, saya Rama. Kebetulan Andre pernah bicara dengan saya, kalau ada kamu daftar, dia minta saya membimbing kamu langsung” Mas Rama menyambut dengan cengkrama hangat.

Di Blues Studio, pengajar yang bagus adalah Mas Rama. Makanya, banyak siswa yang membuat schedule dengan dia.

”Kalau begitu, silahkan kamu isi formulir dan membayar uang pendaftaran seratus ribu” Mas Rama menyambung, kemudian memberikan formulir.

Bintang memelas dalam hati, ”Duh, mana cukup uangku untuk daftar”.
Setelah selesai mengisi formulir, lalu Bintang memberikan formulir tadi. Kemudian,

”Maaf mas, aku bawa uang cuma lima puluh ribu, ini juga hasil tabungan selama dua bulan” Tegas Bintang.

”Ya sudah, ga apa-apa” Mas Rama mengambil uang Bintang serta formulir yang sudah diisi, sembari matanya menoleh kesana-kemari, agar tidak dilihat pendaftar-pendaftar lain.

Setelah panjang lebar mengobrol dan membuat jadwal latihan yang diputuskan setiap jum’at sore per minggu, Bintang kembali pulang.

Setiba di rumah, ibunya bertanya ”Dari mana saja kamu, Tang?”. ”Dari rumah teman, bu” Jawab Bintang.
”Kok lama sekali mainnya, tidak seperti biasa!” Tegas ibunya. ”Itu..emh..emh..” Bintang bingung menjawab.

”Kenapa?” Tanya ibunya.

Karena tidak tega berbohong kepada ibunya, Bintang berusaha jujur mengatakan ”Sebetulnya, aku daftar kursus di Blues Studio, karena ingin bisa main gitar yang baik bu..”.

”Duh.. Bintang.. Bintang.., kamu itu dari keluarga yang miskin, ibu tidak akan sanggup bayar bulanannya,mau jadi apa kamu nanti?! Yang bener saja sekolah, jangan mikirin yang lain!” Keluh ibunya.

”Bukan begitu sih bu.., Bintang sedang ingin belajar gitar saja” Bintang menambah penjelasan.
Kebetulan senja tiba-tiba tak menampakkan keelokkan di sore itu. Mungkin mendukung apa yang di keluhkan Ibu Nura. Dan Bintangpun bergegas ke kamar mandi, karena sebentar lagi kumandang adzan akan segera bersenandung.

Hari Jum’at selalu ditunggu Bintang setelah daftar di Blues Studio, karena dia tidak sabar dengan pembelajaran yang akan diberikan Mas Rama.

Tibalah Jum’at yang ditunggu-tunggu. Semangat untuk belajar terlihat dari aura paras Bintang yang cerah, bibirnya tak bisa berhenti untuk mesem-mesem sendirian. Bu Nura saja kadang-kadang mengelengkan kepala, bila melihat kelakuan bungsunya itu.

”Assalamu’alaikum” Bintang mengucapkan salam sembari membuka pintu Guitar Room, ternyata Mas Rama sudah menunggu dengan setia.
”Silahkan duduk, Tang!” Sambut Mas Andre.

”Kamu sudah bisa strumming dan plucking ’kan?” Tanya Mas Rama kepada Bintang yang jelas kebingungan dengan istilah tadi. Strumming dan plucking tuh, apa ya mas?” Karena bingung, Bintang balik bertanya.

”Hmm.. Strumming itu mengocok guitar, kalau plucking itu memetik” Jawab Mas Andre sembari menjelaskan.

Dengan serius, Bintang menyimak setiap penjelasan Mas Rama dalam pertemuan pertama.
Dan, yang dapat di bawa ke rumah hasil kursus hari pertama yaitu lick-lick A major dan minor Arpeggio.

Setiap hari, Bintang selalu mempelajari apa yang diberikan Mas Rama. Biasanya, dilakukan setelah mengerjakan PR atau pulang dari pengajian. Tak pernah kata keluh keluar dari bibir tipisnya yang manis.

Berlanjut kepada pertemuan ke empat yang berarti pertemuan terakhir dalam sebulan, Bintang belajar memainkan gitar dengan serius di tempat kursus,

”Blues adalah salah satu genre skill gitar yang banyak dipelajar. Karena,akar dari segala aliran adalah sumbernya dari Blues” Jelas Mas Rama.

”Oh.. Ternyata Blues merupakan akar lick-lick melodi yang nantinya berkembang menjadi genre rock, pop, jazz, dsb” perangah Bintang saat baru mengetahui.

Hanya satu bulan Bintang kuat membayar tempat kursus, itu juga dengan menjual beras terlebih dahulu.

”Bu, sudah sebulan Bintang kursus tapi belum bayar uang bulanannya” Bintang mengeluh.

”Tuh.. ’kan sudah ibu bilang, kalau uang jajanmu tak ’kan cukup membayar uang bulanannya!” Sindiran ibunya.

Karena tak mampu membayar tempat kursus, akhirnya berhenti di tengah jalan. Namun, Bintang tak ingin ambisi memainkan skill blues yang menawan, gagal.

Setiap hari Bintang mengasah skill gitar yang pernah dipelajari di tempat kursus, tanpa lelah. Bintang mulai ingin menjadi gitaris yang handal, setelah Blues memberikan nyawa dalam intuisi musiknya.

Tanpa sadar ujian sekolah sudah di depan mata, tanpa bekal persiapan yang matang, dihadapi dengan tenang. Semua mata pelajaran dilewati tanpa beban, dan hasil ujianpun tidak terlalu buruk. Malah rangking yang di dapat masih termasuk 5 besar. Mungkin, karena otak masih segar menampung semua transformasi pelajaran dari guru, tidak disia-siakan oleh Bintang sebelum ujian dilaksanakan.

Namun, pada saat pembagian hasil NEM, nilai yang diraih masih kurang satu poin untuk masuk ke salah satu SMU favorit di kota. Bintang menerimanya walaupun sedikit kecewa, karena memang kurang mempersiapkan dengan matang.

Saat itu Bintang bingung, ”Duh, harus masuk ke SMU mana lagi ya?” gerutunya.

”Seandainya NEMku pas atau melebihi ketentuan SMU itu, aku pasti masuk” Khayalnya.

Karena Bintang belum menentukan pilihan kedua, untuk masuk ke SMU lain, dia tambah bingung karena takut tak masuk kemana-mana.

Dengan dorongan bapaknya, Bintang tetap bisa melanjutkan sekolah. Tidak lama beranjak dari kebingungan, bapaknya mendapatkan informasi pendaftaran di sekolah yang baru diresmikan. Kebetulan, menerima jumlah nilai NEM berapapun.

”Tang, masuk saja ke SMU Taman Langit!” Saran Bapaknya. Setelah itu Bintang berangkat daftar diantar oleh bapaknya, dan alhamdulillah diterima. SMU N Taman Langit, disanalah Bintang mengenyam pendidikan SMU.

***

SMU adalah masa yang penuh dengan percobaan liar dan perubahan sikap. Segala hal ingin dicoba tanpa menghiraukan akibatnya. Perubahan tingkah laku mulai terasa saat lelah menghampiri jiwa, tentu masih mentah untuk dibentuk. Perangai Bintang berubah 360o, karena SMUN 1 Taman Langit adalah sekolah yang harus Bintang tempuh dengan duakali naik angkutan umum selama 1 jam, karena lokasinya jauh dari rumah.

Sering sekali terlambat, kesiangan dan di hukum karena jarang upacara bendera dan telat masuk kelas. Kebetulan SMU Taman Langit adalah sekolah yang baru diresmikan, belum ada kepala sekolah yang menjabat, serta baru satu angkatan yang ada. Keadaannya masih terkesan bebas bagi anak-anak badung yang jarang masuk. Di sekolah inilah aku mulai merubah paradigma tentang pendidikan, aku mulai tidak menghiraukan prestasi sekolah karena yang aku cari kali ini hal-hal yang berhubungan dengan musik alias membentuk band dengan teman-teman.

”Allahuakbar, Allahuakbar...,” Adzan magrib berkumandang memanggil jiwa raga untuk bertekuk lutut di surau biasa.

Setelah sholat selesai, Bintang masih pergi ke pengajian muda-mudi.Setelah selesai pengajian, saudaranya memanggil dari belakang.

”Tang..tang..” Bintang menengok ke belakang.

Terengah-engah saudaranya menghampiri, ”Tang, kawanku yang suka nongkrong di pasar, sedang membentuk grup band” Saudaranya menjelaskan. ”Lalu?” Bintang ingin tahu kelanjutan cerita saudaranya. ”Ya, dia sedang mencari personil gitar satu lagi, saya cerita ke dia bahwa kamu juga main gitar” Sambung saudaranya.

Bintang merasa bangga ditawari menjadi personil band, kebetulan saat itu sedang ingin membentuk grup band. Dua hari kemudian, dipertemukanlah Bintang dengan teman saudaranya. Di tempat tongkrongan anak muda pusat kota. Di tongkrongan mereka saling melontarkan pertanyaan. Tanpa panjang lebar, setelah membicarakan visi misi yang ditawarkan teman saudaranya, Bintang sangat tertarik untuk bergabung dengan konsep pembentukan band yang telah dipaparkan.

Awalnya, sesuai kesepakatan posisi Bintang sebagai gitar rhythm. Namun, berhubung pemain bass belum menguasi beat dan tempo drum, maka Bintang beralih posisi menjadi bassis dan pemain bass menggantikan posisinya. Mulai saat itu, tercetuslah nama MIGAIL BAND yang beranggotakan Vieri (Lead Guitar), Ernes (Guitar Rhythm), Yosa (Drum) dan Bintang di Bass. Namun sayangnya, saat itu belum memiliki vokalis yang justru sangat vital sebagai Front Man di suatu grup band.

Hari terus berganti hingga dua minggu kemudian, baru mendapatkan vokalis yang bernama Siva, kebetulan dia orang Bekasi yang sedang melaksanakan PPL sekolah STMnya. Semua mengenal Siva ketika nongkrong di pusat perbelanjaan kota, ngobrol kesana-kemari, akhirnya nyambung dan sepakat untuk menjadi vokalis Migail Band. Dari saat itu, briefing pertama di rumah Vieri (Lead Guitar), untuk saling mengenal karakter masing-masing, mulailah dengan lagu Slank. Jiwa-jiwa mulai melebur bersatu dengan kumpulan notasi yang disenandungkan.

Hari mulai sore, mereka menuju pusat perbelanjaan kota, nongkrong seperti biasa. Bercanda-gurau mengenal satu sama lain, bercerita pengalaman masing-masing, semakin nyaman menyatukan hati dan rasa, agar dalam perjalanan semakin kokoh menjadi salah satu band indie yang dikenal, minimal di kota sendiri.


Minggu keempat di bulan pertama pembentukan grup band, barulah masuk studio, mencoba lagu karya sendiri yang sudah dikonsep sebelumnya. ’Taman Biru’ adalah lagu pertama yang diciptakan. Mereka percaya diri membawakannya. Setiap latihan lagu ini wajib dibawakan. karena waktu itu jenis musik yang lagi ’on fire’ dikalangan anak muda adalah musik yang bergenre Punk dan Underground, jauh sekali dengan jenis musik mereka yang lebih nge-Blues, semi energik dengan sentuhan fill-in melodi yang dapat menghempaskan jiwa dari combine strumming dan plucking gitar Vieri dan Bintang.

Bersama Migail Band, Bintang memberanikan diri mengikuti festival musik kesana-kemari. Hingga suatu hari dalam Festival Pelajar di ibu kota, menjadi juara pertama, walaupun tanpa dukungan orang tua.


Masa SMU, Bintang senang mengikuti acara seni di sekolah ataupun festival-festival musik bersama Migail Band. Walaupun terbilang dari keturunan keluarga yang jarang harta, pergaulannya luas dan Bintang dikenal kawan-kawan sebagai guitaris otodidak yang hebat.

Kehebatannya, karena dia memiliki sifat ulet apabila ingin menguasai sesuatu, temasuk mengulik skill guitar. Bintang hanya belajar melalui fotokopi partiture atau tabelature Jimmy Hendrix, Yngwy Malmsteen, Paul Gilbert, Steve Ray Vaughan, Steve Vai yang dimiliki dari teman-teman pergaulannya, walauun pernah semat mengenyam kursus di tempat Mas Rama.

Pernah juga dia mencuri Buku Tabelature karya WC. Handy (Bapak Blues Dunia), yang dicari-cari Bintang. Kebetulan teman sekelasnya di SMU mempunyai buku itu.

“Mi, pinjem tabelaturenya ya..?” Bintang meminta. “Jangan! Tidak boleh sama pengajar kursus saya!” Romi menimpal tegas.

“Seming..gu, tolonglah Mi!” Bintang memohon. “Ga boleh! Tetep ga bisa!” Geram Romi. “Kalau mau kamu kursus saja sama pelatih saya, gimana?” Tawar Romi.

Bintang mengeluh paksa, “Kan kamu tahu, rokok saja minta ke kamu.

” Ya sudah kalau begitu, untuk yang satu ini, kamu ga boleh pinjem tabelature saya, titik!” Romi mengakhiri percakapan.

Entah kenapa tiba-tiba Romi mendadak pelit setelah kursus gitar di tempat kursus terkenal di kota.

“Mungkin takut tersaingi?" Tanya Bintang dalam benak.. “Akh..sudahlah, lihat saja nanti.” Bintang tak acuh.

Bintang tertegun sejenak, memaknai penggalan kalimat Romi yang terakhir. Desing peluru ‘kata’ romi bersarang di hatinya. Kemudian terbersitlah niat bahwa suatu hari Bintang akan ‘mencuri’ buku Romi.

Namun, Bintang tak sejahat itu, “setelah bisa, baru akan aku kembalikan” Niat dalam hatinya.

Alasan Bintang mencuri, karena Romi pelit tidak mau membagikan ilmu guitarnya. Namun setelah dikuasai, Bintang mengembalikannya kemudian meminta maaf.

****

Baru sebulan menjadi alumni, hobinya tersendat-sendat dicurahkan, karena teman-teman pergi melanjutkan kuliah ke luar kota. Sementara dia mengalami keguncangan jiwa akibat terlalu bebas bergaul masa SMU, Tembakau ‘Aceh’ atau ‘Jamaika’ yang menghancurkan kecerdasan Bintang dalam akademik. Setiap hari menjadi anak yang tidak seperti dulu lagi, sering membantah, tidak menurut dan jarang membantu ibunya.

Berdiam diri menjemput hari ke minggu lalu ke bulan, tak ubahnya pemalas kumal tidak punya pekerjaan. Pengangguran tepatnya, hal itu berjalan pasca SMU karam. Siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang, pola terbalik menghiasi hidup ‘malam-siang ‘. Kebuntuan memagari hari-harinya.

Berselibut jiwa Bintang dalam peraduan, “Kemana Bintang pergi? Berjalan? Menuju? dan mencari? Ukh… Bingung sekali!”. Tubuhnya hanya bersasmita menunjukkan ketidak berdayaan diri menjalani hidup.

Suara parau dari balik dapur kumuh terdengar “bangun Nak! Bapakmu sudah qomat di surau, makmumin sana!” ibunya membangunkan.

Kemudian, Bintang menuruti titah dari ibunya, untuk memenuhi panggilan Tuhan.

Tibalah Bintang di surau dengan disambut sarkasme bapaknya, “Sholat subuh nanti saja, saat Matahari di atas kepalamu!” Bapaknya marah karena ketika Bintang datang, Pak Muni baru selesai wirid.

Begitulah seorang bapak pensiunan guru, selalu tegas mendidik anaknya. Termasuk keinginannya, agar Bintang meneruskan jejaknya sebagai guru untuk terlebih dahulu melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan pendidikan.

Setahun berlalu, Bintang mulai menata kembali kewajaran hidup.

“Tang, kalau kamu tidak mau menurut sama bapak, silahkan kamu hengkang dari rumah ini!” Ultimatume bapaknya.

Terlarut jiwa Bintang dalam kebimbangan setelah diancam bapaknya. Setelah memikirkan perkataan bapaknya, Dia menurut untuk melanjutkan kuliah ke salah satu PTN jurusan pendidikan.

Dengan tes yang ketat, Bintang terdaftar dalam pengumuman hasil tes alias masuk seleksi di PTN tersebut. Bintang juga tidak asal sebelum tes dilaksanakan, dia membuka kembali buku-buku tentang pengetahuan dan pendidikan. Alasannya, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak segoblog masa SMU.

Mulailah Bintang masuk kuliah di hari pertama, namun kegundahannya sangat mengganggu jiwanya. Dia tidak menikmati perkuliahan, dengan alasan tidak sesuai dengan minatnya yaitu menjadi guru, kemudian dengan aturan-aturan yang ketat; harus memakai celana katun, sikap sopan, baju dimasukkan ke celana dan memakai ikat pinggang. “Akh.. Ribet amat” gerutu dan kesal menggerogoti hatinya.

Dia mencoba sabar untuk terus mengikuti perkuliahan. Namun, beban yang dia bayangkan untuk menjadi seorang guru sangat berat.

Dalam fikirannya, “Aku harus mendidik anak bangsa, sementara Aku.., waduh Aku takut tidak bisa memberikan tauladan”.

Begitulah fikiran-fikiran menjelang semester tiga selesai. Kemudian Bintang tidak tahan ingin keluar dari PTN tersebut.

Lalu dia mencurahkan kegelisahan, pada ibunya.

“ Bu, aku tidak tahan kuliah di PTN itu, karena nantinya aku harus menjadi guru.
Sementara dengan sikapku yang seperti ini.., perangaiku seperti ini.., aku takut salah mengajarkan sesuatu yang tidak baik nantinya”. Keluh Bintang kepada Ibunya.

Nasihat sederhana terlontar dari mulut yang sudah lembek dibalut wajah berkulit keriput, “Nak orang lain saja bisa, kenapa Bintang ‘ngga?”.

Dari nasihat ibunya, Bintang kembali kuliah seperti biasa. Hingga semester terakhir dia jalani dengan tersendat-sendat atas ketakutan bahwa dia tidak bisa menjalankan apa yang dinasihatkan Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani”. Karena ketiga nasihat itulah bintang semakin paranoid.

Berlalulah waktu masa kuliah. Pasca sarjana dia menjadi guru honorer selama tiga tahun. Di samping itu, terkadang teman-temannya, mengajak nge-jam (nge-band tanpa komitmen) di acara-acara yang lumayan menghasilkan uang untuk seminggu.

Selama menjadi guru honorer, bintang banyak belajar tentang adab, tatakrama guru, bicara yang baik dan benar, melayani siswa dengan hati, dan hal-hal lain yang membuat dirinya berevolusi kembali menjadi Bintang seperti masa SMP.

Selama menjadi guru honorer pula tidak berjalan dengan mudah, banyak bersinggungan dengan kepala sekolah, karena kegiatan Bintang di luar jam mengajar yaitu nge-jam alias mencari tambahan uang untuk bertahan hidup, dirasakan kepala sekolah mengganggu jadwal mengajar di sekolah.

Memang, gaji guru honorer sangat tidak layak pada kenyataannya. Pemerintah memang tega terhada pioneer pendidikan yang bisa menjaga peradaban bangsa.

Suatu hari Bintang mengikuti tes CPNS, keinginannya untuk masuk sangat diidamkan oleh dirinya dan keluarga. Dia mencoba daftar ke POS terdekat untuk menjadi salah satu peserta tes. Sebelumnya, seperti diri Bintang yang asli, tak pernah dirinya tanpa persiapan untuk menghadapi sesuatu.

Berlangsunglah tes CPNS yang ditungu-tunggu, dengan tenang Bintang menjawab soal satu persatu dengan segala daya fikirnya.

“Teng.. teng.. teng..” Waktu tespun telah habis. Bintang pulang dengan hati berharap agar dalam pengumuman namanya terpampang alias masuk seleksi dan menjadi salah satu CPNS yang diangkat.

Seminggu sudah dilewati, hasil pengumuman CPNS membuat malam-malam Bintang tak melelapkan matanya dalam tidur.

“Tok tok.. tok ok” Ketuk pintu mengganggu Sholat Shubuh Bintang pagi itu. “Assalamu’alaikum…” Dari Balik pintu berucap salam. “Wa’alaikum salam..” sahut Bintang.

Pintupun dibuka dan, “ Deub..” ternyata pamannya, langsung memeluk Bintang yang belum siap menyambut. “Ada Apa, Mang?” Tanya Bintang. “Selamat, selamat, Tang” Tiba-tiba tangan pamannya langsung menjabat tangan Bintang. ‘Kau, masuk CPNS tahun ini. Mang, tadi baca di koran”. Jelas Pamannya.

Jatuhlah ribuan tetes air mata Bintang saat itu, dirinya tak percaya telah dipercaya terutama oleh Tuhan yang menakdirkan dirinya menjadi seorang guru. Berbagai macam masa lalu yang buruk membayangi fikiran, serta menghantui Bintang dalam menjalankan tugas menjadi guru.

Sontak ibu bapaknya memeluk Bintang yang sedang tersimpuh rimpuh atas kabar bahagia dari amannya. Setiap hari menunggu SK, hati Bintang selalu bergetar bk badai menghempaskan segala yang ada.

Kalimat yang selalu diucapkan menyambut SK adalah 'Alhamdulillah', setahu dia cara bersyukur yang paling sederhana adalah dengan mengucapkan tahmid tersebut.

Dalam benak dan tekad Bintang sekarang adalah bersyukur dengan sesungguhnya; melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Karena, dengan turunnya SK, bukanlah gaji yang dia fikirkan.

Tugas yang diemban tidak mudah dan bukan hadiah, tetapi tanggung jawab yang lebih membumi meyambut di depan mata.

Sesuai dengan Tujuan Nasional di negaranya, membentuk siswa menjadi warga negara yang; Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


----2009----
Readmore
Share |

Cerpen Emha Saputra

TENTU, KUANGGAP PUTRIKU, YANG TERSAYANG

Disebuah kuburan, makam-makam yang sepi tanpa warna bunga. Hanya rerumputan dan nisan-nisan makam. Disekitarnya pun, pasir-pasir berwarna coklat memudar dikarenakan tanpa pelindung pohon rindang.

Tidak lama berselang, kurung batang dan rombongan memasuki kuburan. Ada beberapa mobil dan ratusan motor diparkir pada sebuah lahan kosong. Rombongan itu, mayoritas berbusana hitam-hitam, baik pria maupun wanita, baik tua maupun muda. Ada seorang wanita berusia 30an membawa sekeranjang bunga.

Harum bunga berwarna-warni dan beraneka rupa dari keranjang ditangan Citra, tidak mampu membuat tersenyum orang-orang disekitar keluarga almarhum. Termasuk suami tercinta, Fansuri, yang hanya berdiri dan memegang erat pundak kanan Citra dengan tangan kiri yang kotor oleh tanah. Mayat itu, sudah masuk kedalam liang. Mayat itu, ayahanda Citra yang telah meninggal sebelum melihat cucu pertama tersayang.

Tampak berdiri, ayah dari Fansuri. Ayah dari Fansuri berjalan mendekati Citra dan meraih bunga berwarna-warni. Bunga berwarna-warni mulai menyentuh kain kafan sahabatnya. Besannya yang wafat karena faktor usia dan sakit. Setelah itu, tubuh sahabatnya pun tertutup papan-papan kayu. Tidak terlihat lagi tubuh dari sosok pria, sahabat ayah Fansuri, ayahanda Citra , dan mertua Fansuri.

Setelah nisan tertanam, mereka beranjak pergi satu persatu.

Ayah dari Fansuri adalah orang yang terakhir ditempat itu. Beribu kenangan terlintas dikepala. Satu niatan, bahwasanya dia dia harus mampu menganggap Citra, sebagai putrinya. Putrinya yang tersayang. Walaupun sebenarnya, ayah dari Fansuri hanya memiliki seorang anak dan putra. Begitupun sahabatnya, hanya memiliki seorang putri dan berwatak keras.

Ayah dari Fansuri berdiri, airmata telah kering kini. Dia berjalan menuju sanak-saudara yang berkumpul digerbang kuburan. Matahari terasa terik, wajah ayah dari Fansuri memerah. Selama berjalan, dia teringat bagaimana sahabatnya menolong dipenjara. Sesama narapidana, dan disanalah mereka berkenalan. Sahabatnya, yang menolong untuk hidup lebih baik. Sahabatnya, yang membantu untuk memilih wanita serasi dan setia.

Ayah dari Fansuri, terkenang setiap rejeki yang didapatnya. Ataupun, setiap butir nasi selama dipenjara. Kini, sahabatnya telah tiada. Citra seorang diri, karena sahabatnya pun telah menduda beberapa bulan yang lalu.

Melihat kesedihan mertuanya, Citra dan Fansuri memutuskan untuk pulang semobil, mobil berwarna oren. Ayah dari Fansuri, merindui kini. Ingin rasanya, dia bercerita semua kenangan bersama besannya. Atau, kenangan tentang mereka berdua, orang tua Citra. Namun yang ada, hanya airmata dan gerak-gerik kikuk. Sesekali Fansuri dan Citra menatapnya, seakan terasa kesedihan yang dialami calon kakek untuk anaknya.

Sementara dimobil yang lain, ibunda dari Fansuri, menangis dan menghapuskan semua rias diwajahnya. Hingga, yang lainpun ikut menangis atau terisak-isak. Mereka memasuki rumah megah, tempat Citra besar dan tumbuh. Suasana semakin sedih, baru beberapa bulan yang lalu dan kini, kesedihan itupun terulang.

Ibunda dari Fansuri lekas turun, dan berjalan menuju sebuah sofa berwarna hijau tua dipojok teras. Citra dan Fansuri mengikutinya dari mobil yang berbeda. Namun, mobil yang ditumpangi Citra dan Fansuri tidak beranjak pergi, seorang penumpang masih disana.

Beberapa saat kemudian, barulah ayah dari Fansuri turun. Namun, dia berjalan tidak menuju sofa, seperti Citra dan Fansuri maupun istrinya sendiri. Dia berjalan menuju ruang tamu yang memiliki banyak kenang-kenangan. Dari obrolan canda hingga tawa, ataupun ketika mereka akan mengadakan pesta pernikahan Citra dan Fansuri.

Tamu dan sanak-saudara, mulai berpamitan. Aroma bunga dan kesedihan seakan berpadu dan memberatkan mata. Tentu saja, untuk ayah dari Fansuri, almarhum adalah besan satu-satunya.

Dia merasa berat, dan tidak tahu untuk membahagiakan putri sahabatnya. Seakan dia lemah, dan tidak ada kawan. Walaupun, sebenarnya ayah dari Fansuri cukup dekat dengan istrinya. Seringkali mereka berbicara dan diskusi sebelum tidur.

Hari sudah mulai petang, ayah dari Fansuri keluar menuju sofa hijau. Istrinya tidak ada disana, hanya ada Fansuri dan Citra.

"Kemana ibumu, Fansuri?" ucap ayah dari Fansuri.

"Ibu menuju ketaman belakang" jawab Fansuri lemah.

Akhirnya, ayah dari Fansuri duduk disamping Citra. Dia mencoba untuk menyegarkan dirinya, raganya, dan hatinya. Citra dan Fansuri hanya merasakan setiap gelagatnya.

"Lihat ditaman sana" ucap ayah dari Fansuri dengan tangan kanan menunjuk sebuah pohon jati.

"Pohon jati itu, kami beli bersama. Lalu kami tanam dan seringkali menjadi tempat berteduh untuk kami berdua" ujar ayah dari Fansuri.

"Benar, yah" jawab Citra untuk menyenangkan hati mertuanya.

"Tentu saja, Fansuri tidak pernah tahu" sahut ayah dari Fansuri. Dia menghela nafasnya, menghirup dan menghembuskannya. Fansuri berdiri dan mendekati sebuah pot bunga.

"Seringkali, kami berdua bercerita tentang cita-cita dan mimpi" terang ayah dari Fansuri.

"Bahkan, tidak jarang kami tertawa mengenang hari-hari selama dipenjara" lanjut ayah dari Fansuri, yang akhirnya berdiri mendekati putranya. Fansuri merasa canggung, dan menatap tajam ayahnya.

"Fansuri, kau memang lebih tua beberapa bulan. Dan, ketika itu Jaka menghadiahimu sebuah handuk yang bagus dan halus. Beliau menghadiahimu handuk terbagus yang pernah kurasa" terang ayah dari Fansuri yang akhirnya menatap kedua bolamata menantunya, Citra.

Mereka berjalan menuju taman belakang. Melewati tangga yangterbuat dari batu-batu Palimanan. Melalui sisi kiri rumah Jaka dan Fathimah yang telah tiada. Ada puluhan bunga, dari mawar dan melati. Warna-warni disisi taman yang sebelah kiri memang lebih indah, karena disisi kanan ada sebuah kolam yang cukup besar dan panjang. Aroma aneka bunga terasa hingga mereka melihat ibu dari Fansuri.

"Bu" sapa Citra dengan penuh harap dan kecap yang pasti.

"Oh, kalian... aku merasa segar duduk disini" jawab ibunda dari Fansuri yang tidak lupa menatap wajah suaminya. Fansuri segera duduk disamping ibunda. Citra hanya menunduk dan tetap berdiri.

Ayah dari Fansuri mengajak mereka semua kesisi kanan rumah yang berhias bambu-bambu dan sebuah kolam. Mereka berjalan lembut dan syahdu. Citra, Fansuri, dan Ibunda duduk ditepi kolam dengan kedua kaki didalam. Sementara, ayah dari Fansuri duduk disebuah kursi kayu yang berteman dengan sebuah meja dan kursi lainnya. Ayah dari Fansuri, mengambil kertas dan menulis sesuatu.

Ibunda dari Fansuri hanya tersenyum, mengenang masa-masa indah mereka.

Muhammad Hendra Saputra Mahadera
Alamat: Jl. Letnan Arsyad utara No. 34 Rt:001/016 Kayuringin Jaya. Bekasi
Readmore
Share |

Cerpen Tedy Taufiq Rahman

Dan Kematian Pun Salah Alamat


Aku tahu mungkin cerita ini akan nampak janggal, tidak masuk akal. Irrasional. Kamu mungkin menganggapku sebagai seorang pembual atau bisa saja pengkhayal. Absurd, tidak jelas apa yang dimaksud. Kendati demikian, ada suatu hal yang tidak bisa disangkal; bahwa segala apapun keyakinan kita terhadap segala sesuatu di dunia ini belum jua final.

***

Seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya selepas main catur, Maman suka langsung tidur, bahkan sampai mendengkur karena kecapean. Tapi malam ini tidak, Maman tidak bisa tidur. Bukan, bukan karena rumahnya dekat dengan kuburan, kalau itu alasannya mungkin selama tujuh belas tahun dia tidak bisa tidur. Tapi entah kenapa malam ini terasa sangat beda bagi Maman. Maman tidak bisa berdamai dengan malam ini.

Maman pun bangun, menyeduh kopi, mengambil rokok, kemudian duduk di depan rumahnya yang menghadap kuburan.

Dua puluh menit berlalu. Rasa kantuk semakin menjauh. Jam berganti. Rasa kantuk semakin mati. Padahal hari belum jua pagi, masih dini hari, sekira jam dua.

Tatapan Maman menerawang ke depan, melihat angkasa yang semakin menawan, memberikan ketenangan sekaligus kebingungan, lantas pikiran Maman tertawan oleh sebuah pertanyaan.
“siapa itu? kelihatannya ada orang yang datang menuju kemari?...” setelah menyidik-nyidik dari kejauhan “Ah paling juga mas Tarso ngajak main catur lagi, gak ada kapok-kapoknya. Tapi baguslah, jadi ada teman main catur lagi”

Maman menunggu orang yang menurut perkiraannya adalah mas Tarso, seorang tukang dagang vcd bajakan. Tapi setelah beberapa meter orang itu mendekat, perkiraan Maman mengenai mas Tarso pun lenyap.

“lho, bukan mas Tarso, siapa ya?... aku belum pernah lihat orang itu di sekitar sini?”

Hantu? Maman menepis pikiran itu, sekalipun sudah tujuh belas tahun dia tinggal berhadapan dengan kuburan tak sejumput pun Maman menemukan hal-hal yang aneh, selain muda-mudi yang asyik masyuk pacaran, ciuman, pelukan di balik semak-semak dan rumput. Atau orang yang numpang kencing di balik pohon kayu.

Orang itu mendekati Maman. Sebagai pribumi, Maman mempunyai kewajiban untuk menyapa terlebih dahulu. Maka Maman pun bertanya “mau ketemu siapa mas?”. Orang itu tak menjawab malah duduk dengan tenang di samping Maman. Orang itu menatap Maman, kemudian tersenyum.

Maman mulai sedikit merinding. Melihat gelagat Maman yang ketakutan, orang itu akhirnya berbicara.

“jangan takut, aku bukan hantu, tapi aku juga bukan manusia. Aku bukan iblis, aku juga bukan malaikat. Aku hanya sebatas penyampai pesan. Bahwa besok malam tepat jam segini, kamu bakalan mati”

Pertama mendengar omongan ini Maman kaget, siapa yang tidak terkejut dengan kematian? Tetapi kesengsaraan hidup membuat Maman bisa lebih rileks, akhirnya Maman ketawa kemudian menjawab dengan bahasa setempat.

“panjenengan niki sinten? Lha kok wantun’e taken kulo sedo enjang?”)*

Orang itu tersenyum. Seperti sudah hapal bagaimana reaksi orang-orang yang mendapatkan pesan seperti itu. Tanpa banyak bicara lagi, orang itu menutup mata Maman dengan tangannya, seperti ritual wajib yang mesti dilakukannya setelah menyampaikan pesan demikian. Dengan seketika pandangan Maman gelap seperti memasuki portal dunia lain.

Tidak kurang lima menit, setelah orang itu melepaskan tangannya. Maman kemudian berkata. “Benarkah besok aku akan mati?”

Orang itu, seperti biasa, tersenyum, kemudian mengangguk.

***

Malam pun larut dan pagi di ufuk sana mulai menggelayut. Seperti mimpi, mendapat kabar bahwa esok akan mati, Maman kemudian mengira-ngira, dalam pikiran yang tak bertepi.

“mungkin beginilah cara Tuhan bekerja, mungkin begini keadaannya orang-orang yang bakalan mati”.

Hari beranjak pagi, orang itu masih duduk di sisi Maman. Namun seolah ada kesepakatan bersama dengan bahasa buana, mereka tak saling bicara. Begitu pun Maman, kini ia lebih banyak diam, namun hati dan pikirannya lebih banyak bicara.

Maman seolah mengabaikan keberadaan Sang Penyampai Pesan, kemudian masuk ke rumahnya. Di kamarnya, dia melihat istrinya sedang tertidur pulas. Di pandang wajah istrinya dalam-dalam, perempuan yang selalu merengek minta uang belanja lebih, males membuat masakan buatnya, bau badan yang sangat menyengat.

Namun pada saat itu, semua anggapan itu hilang. Rubuh oleh rasa sayang yang lambat laun berubah menjadi rasa kehilangan, karena besok malam, Maman akan mati. Baru kali ini Maman menyadari betapa berartinya perempuan yang sedang tertidur itu, yang selalu siap ketika Maman sakit, yang telah menemani hidupnya selama kurang lebih delapan belas tahun.

Sementara di samping perempuan itu ada dua mata hatinya, ketika melihat dua anaknya, tak kuasa Maman menitikkan air mata.

Adzan shubuh berkumandang, tak biasa seperti hari-hari sebelumnya, Maman mengambil air wudhu, kemudian ia sholat. Mungkin ini adalah sholat shubuh pertama dimana Maman bisa tepat waktu, biasanya tidak tepat waktu, bahkan lewat saja, tidak sholat. Tapi kali ini beda, sebab Maman ingat, besok dia akan mati, dia ingin menghabiskan sisa waktunya untuk bekal di akhirat nanti.

***

Pagi hari, rutinitas biasa, istrinya menyiapkan sarapan buat buah hatinya. Namun, pandangan Maman kali ini beda, dia sangat menikmati suasana kehangatan keluarga pagi hari; anak-anak berisik memakai seragam, merengek-rengek minta uang jajan di tambah karena temannya lebih banyak, mencari pulpen bekas semalam yang entah disimpan dimana?

Sementara istrinya, sekalipun belum mandi, memakai daster kreditan yang belum lunas, entah mengapa dalam penglihatan Maman menjadi begitu cantik dan ayu. Maman kemudian masuk ke kamar, mengambil jam dinding, mengambil obeng, di bukanya jam dinding itu dan keluarlah uang sepuluh ribuan.

Di sanalah Maman menyembunyikan urang lebih dari hasil ngesol sepatu, Maman mengambil seratus ribu, disimpannya kembali jam dinding seperti sedia kala. Maman memberikan kepada kedua anaknya dua puluh ribu. Mereka girang alang kepalang, loncat loncatan, tak henti-hentinya anak-anak itu bermanja-manja di hadapan Maman.

Sementara istrinya yang mengetahui hal itu, dari dapur langsung ngomel ke Maman. Tapi Maman hanya ketawa kecil, kemudian dikasih sisanya delapan puluh ribu ke istrinya. Maka omelan pun serta merta berubah menjadi manja-manjaan.

Istrinya bertanya “kok tumben ngasih banyak, biasanya cuman tiga puluh ribu”. Maman menjawab sekenanya, “aku pengen makan enak, nanti siang beli ayam ya?”.

Istrinya pun tak banyak bicara, hanya mengangguk patuh. Uang memang bisa membuat segalanya mungkin, neraka jadi surga, dosa jadi pahala begitu juga sebaliknya.

***

Selepas sarapan, sekira jam sembilan, seperti biasa, Maman pergi kerja ngesol sepatu dengan sepeda yang di cat merah putih. Jangan aneh, mengenai sepeda yang di cat seperti warna bendera itu Maman berdalih supaya tidak di curi orang, “mereka akan pikir-pikir kalau mau nyuri juga, ah sepeda jelek begini” kata Maman. Alasan yang sangat bagus, apakah mungkin dulu para leluhur kita ketika merancang apa warna bendera negara punya pikiran yang sama seperti Maman? Supaya tidak di curi orang?

Entahlah, yang pasti kini Maman sudah tiba di tempat biasanya dia mangkal. Tak begitu jauh dari rumahnya, sekira lima belas menit, di depan toko Cleofatra barber shop (tempat cukur buat laki-laki) yang paling kesohor di kotanya.

Maman menyiapkan tempat kerjanya, yang sebuah kursi kecil untuk tempat duduknya dan kursi panjang untuk para pelanggan menunggu sepatu atau sendal yang di kerjakannya. Di balik kotak persegi itulah Maman menggantungkan hidupnya selama bertahun-tahun; ngesol.

Setelah semua persiapan beres, Maman kembali teringat bahwa dia akan mati nanti malam, berarti sisa hidupnya hanya tinggal ± dua puluh jam lagi. Pengalaman spritual ketika di tutup mata oleh Sang Penyampai Pesan membuat Maman tidak bisa menyangkal kebenaran pesan itu. Maman kembali hanyut dalam lamunan.

Tepat di saat itu, ada seorang pelanggan datang, meminta untuk di jahitkan sepatu yang bawahannya mengelupas. Setelah pelanggan itu pergi, Maman tidak langsung mengerjakannya, kembali ia melamun. Melamunkan bahwa nanti malam dia akan mati, sungguh berita yang tidak bisa di percaya! Tapi bagaimana lagi. Yang hidup pasti bakal mati. Dan itu satu keputusan yang pasti. Tidak bisa di pungkiri.
Kendati demikan jauh dari lubuk hati, Maman tetap tidak percaya kenapa nanti malam ia bisa mati?

Pengalaman spritual ketika di tutup mata oleh Sang Penyampai Pesan memang menghenyakkan tapi tetap saja tidak bisa melenyapkan rasa kepenasaran Maman; bahwa nanti malam dia akan mati?
Di sela pikiran ini, Maman kembali teringat kepada Sang Penyampai Pesan, “lho kemana dia?” tanya Maman dalam batin. Namun seolah mengetahui isi hati Maman, dalam hitungan sepersekian detik Sang Penyampai Pesan sudah ada di sampingnya, seperti biasa, tersenyum.

Ketika melihat Sang Penyampai Pesan, rasa ketidakpercayaan Maman kembali luruh, kepercayaan diri Maman bahwa berita itu mungkin saja salah runtuh. Ketika melihat Sang Penyampai Pesan hati Maman terasa teduh. Hati Maman pasrah, sekalipun dosa, dosa dan dosa selayak darah mengalir dalam tubuhnya.

Entah mengapa, Maman jadi teringat dosa, ingat dulu sewaktu muda pernah minum minuman haram yang bernama bir, pernah sekali dua kali merasakan pelacur, jarang sholat, singkatnya jarang melakukan ibadah. Tapi bagaimana lagi, sewaktu dulu, Maman pernah berpikir bahwa Tuhan itu tidak ada, bahwa akhirat itu hanya lelucon para ustad, kiyai dan semacamnya, bahwa kematian itu ibarat uang satu milyar yang tak pernah bisa ia lihat dan rasakan, bahwa hidup hanya sekali disini, sekarang ini saja, bahwa akhirat itu mungkin saja bohong.

Tapi pengalaman spritual yang di sajikan Sang Penyampai Pesan ketika menutup matanya, merubah semua anggapan itu; bahwa hidup ternyata bakal mati juga. Kenapa dia tidak ingat akan hal itu dulu? Ah, kenapa dulu dia tidak percaya itu, ah kenapa dia tidak menurut ketika ayah dan ibunya menyuruh belajar ngaji.

Memang Maman sering melihat orang mati mendengar orang mati, tetapi tak sedikitpun Maman berpikir bahwa dia juga akan mati. Maman pikir, kematian itu hanya akan menimpa orang lain, bukan dirinya. Ah…!

Penyesalan datang bertubi-tubi seperti lalat mengerubungi tai. Tapi mau bagaimana lagi, Maman hanya bisa terpaku oleh segala macam akibat perbuatannya yang ternyata bakal berbicara sementara dirinya diam membisu.

***

Hari ini bagi Maman waktu seakan berlari. Tiba-tiba saja sudah jam lima, penghasilan sekarang tidak tidak seperti biasanya, lumayan cukup banyak, Maman mengantongi uang sampai seratus lima puluh ribu rupiah, padahal hari-hari biasanya paling tinggi cuman nyampe seratus ribu. Entah mengapa, ada orang yang berani membeli sepatu yang di pajang Maman seharga lima puluh ribu, padahal dulu Maman membelinya dengan harga sepuluh ribu dari loakan.

Maman pulang. Dia minta pada istrinya untuk di sediakan air panas, tiba-tiba saja dia pengen mandi pake air hangat dan tak biasanya juga, istrinya dengan senang hati menuruti keinginan Maman. Maman menjadi semakin sedih karena malam hari nanti dia akan mati. Maman tidak ingin orang-orang tahu akan hal itu, bahkan istrinya sekalipun.

Mendekati tengah malam, mas Tarso datang, seperti biasanya mengajak untuk main catur. Tapi tidak seperti biasanya, Maman menolak halus ajakan itu. Maman ingin menghabiskan malam terakhirnya dengan keluarganya. Hanya dengan keluarganya. Tidak dengan yang lain.

Tepat tengah malam. Ketika istrinya tertidur pulas beserta anak-anaknya. Maman mengambil air wudhu, dan tak seperti biasanya Maman melaksanakan sholat malam. Selama satu jam, Maman menangis tersedu-sedu, ingat ibunya, ingat bapaknya yang jauh di sana, ingat sanak saudara yang lainnya. Maman jadi ingat semuanya.

Maman menjerit pada Tuhan, meminta untuk di berikan kesempatan sekali lagi untuk berbuat baik, untuk menghapus segala dosanya, meminta di berikan waktu sekali lagi untuk beribadah seperti malam ini. Maman baru tahu, ternyata sholat itu nikmat, sekalipun bacaan-bacaan arab itu sama sekali tak di pahaminya.

Maman pengin jadi orang baik, Maman pengin beribadah, Maman bersumpah pada Tuhan kalau dia diberikan kesempatan sekali lagi dia akan bersyukur atas segala nikmat apa yang di berikan; yakni nikmat kehidupan!

***

Tepat tengah malam menjelang pagi seperti malam sebelumnya. Maman kembali duduk di di depan rumahnya. Menunggu Sang Penyampai Pesan. Menunggu, menunggu dan menunggu. Karena seperti Sang Penyampai Pesan katakan sebelumnya dia mesti menunggu di waktu yang sama seperti dia datang pertama kali padanya.

Tapi maman tidak tahu kapan tepatnya. Maman cuma mengira-ngira. Maka setelah sholat malam. Dia duduk di depan rumahnya, tanpa kopi, tanpa roko melainkan memakai peci dan mengenakan baju koko.
Tatapan Maman menerawang ke depan, melihat angkasa yang semakin menawan, memberikan ketenangan sekaligus kebingungan, lantas pikiran Maman tertawan oleh sebuah pertanyaan.

“kenapa dia belum juga datang?”

Tak berselang lama setelah dia mulai merasa jengah menunggu, Sang Penyampai Pesan itu akhirnya datang, duduk dengan tenang di samping Maman. Menatap Maman, kemudian tersenyum dan bicara.
“maaf, nampaknya aku salah orang”

Tanpa menunggu reaksi Maman, Sang Penyampai Pesan itu kemudian menghilang. Maman ditinggal sendiri yang sudah rapi memakai baju koko disertai peci. Dan entah mengapa rasa kantuk mendadak datang. Maman pun masuk dan tertidur pulas sebagaimana biasanya.

***

Pagi hari menjelang siang sekira jam sepuluhan. Istrinya membangunkan Maman.

“mas, bangun, bangun, bangun… tokh? Udah siang, kerja sana”. Maman males-malesan, matanya masih terasa berat untuk di buka. Tidak bangun, hanya mengganti posisi tidurnya. Istrinya yang sudah biasa menghadapi kelakuan Maman seperti ini, hanya mendesah, “mas, bangun, tadi Mas Satiman datang kesini, pagi-pagi sekali”

“ana apa?”)** jawab Maman sekenanya.

“itu mas Suryaman, tadi pagi meninggal, mas di minta bantuan untuk menggali kubur”

Mendengar ucapan istrinya seperti itu, Maman sontak kaget. Dia langsung bangun. Karena ingat bahwa nama lengkap mas Suryaman adalah Suryaman Maman.

Catatan:
* kamu ini siapa kok bisa-bisanya mengatakan aku mati besok?
** ada apa? ****
Readmore
Share |

Cerpen D. Dudu A.R

Puisi untuk Mama Zeta
Oleh : D. Dudu AR

“Na.., na.., Vena” bundaku memanggil, setiap aku main terlalu lama di lapangan bersama teman-teman, tidak jauh dari rumah. Beliau selalu khawatir dengan keadaanku. Sejak masih balita sering sakit-sakitan, akibat kepalaku tidak jarang terbentur tembok dan jatuh dari kasur.
”Mandi dulu nak..., nanti bunda buatkan telor dadar dan goreng ayam” beliau merayuku agar segera ke kamar mandi.

Kurasakan kasih sayang nan manja dari bunda masih terasa hangat, terpintal dibalutan perangainya.

Bundaku selalu memberi kasih sayang, tak pernah membiarkanku terluka fisik ataupun psikis, dan tetangga sekitar rumah, juga mencintaiku, kecuali kakakku yang jarang bertemu.
Tidak sebulan kakak pamit ke luar negeri bersama laki-laki, bunda mengecupku terakhir kali ketika membangunkanku pagi hari, saat matahari masih malu-malu mendatangi kelambu kamar. Bunda, menitipkanku kepada alam. Tak pernah ada lagi telor dadar dan goreng ayam; selamat jalan bunda.

Hingga saat umur 4 tahun lebih, Mama Zeta, tetangga rumah, mengasuhku dengan penuh cinta dan kasih sayang, aku dianggap anak kandungnya. Kebetulan beliau belum memiliki anak sebagai pelipur laranya, walaupun sudah menikah dengan Pak Pinto selama lima tahun. Terang saja beliau mencurahkan kasih sayangnya kepadaku. Selama itu pula, orang pertama yang merayakan hari ulang tahunku adalah beliau, dengan membawakan kue tar bersama lilin kecil yang menerawang ruang gelap, bermaksud memberikan kejutan kepadaku.
”Duuuaaaaar!Selamat ulang tahun...selamat ulang tahun.. anakku sayang,” Mama Zeta memberi kejutan.

Balon pecah dan riuh nyanyian membawa senyumku ke bulan, sepulang pengajian dari mesjid. Walaupun sederhana, rasanya aku adalah pangeran kecil paling disayang, dimanja, di dunia. Setiap hari tinggal di rumah Mama Zeta, kadang pulang ke rumah, tetapi tidak lama kembali lagi ke rumah beliau. Karena kakak perempuanku satu-satunya sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah pulang dari luar negeri.

Tidak disadari ternyata saudara-saudara mama menyukai keberadaanku di rumah itu, termasuk Mbah Boneta, Ibu Mama Zeta. Makan, minum, mandi dan tidur selalu di rumah Mama, sehingga aku pun merasa di rumah sendiri.

Hampir satu tahun aku diasuh, Mama Zeta tidak memprioritaskan kasih sayangnya lagi, setelah beliau dikaruniai janin di rahimnya. Sebenarnya cemburu menggelayuti hati setiap beliau mengelus-elus perutnya, sebagai pertanda bahwa kasih sayangnya telah sirna untukku. Setelah itu, aku kembali lagi tinggal di rumah, karena takut mengganggu kebahagiaan mereka. Aku hidup tanpa siapa-siapa saat bunda meninggal, meskipun Mama Zeta sering membawaku untuk kembali kerumahnya.

Tidak lama kemudian, jabang bayi itu lahir di sambut dengan binar mata keluarga Mama, apa lagi Mbah Boneta, sangat sumringah nan bahagia saat menggendong cucunya itu.
Terkadang, aku dipanggil Mama untuk sekedar menengok anaknya, ”Vena..kemari!cium adikmu ini, mmmmmuuuua...h” Katanya.

Zera adalah nama anak perempuannya. Sering, tak bisa sembunyikan jealousku pada Zera, hingga mama sering memelukku sambil menyuapi Zera. berlalulah waktu hingga aku sudah kelas satu SD. Namun, kini aku telah kehilangan Mama Zeta. Dan Aku, tinggal bersama Mbah Boneta.

Suatu hari Mama Zeta dipaksa pindah oleh suaminya, entah karena ada sesuatu hal, aku tidak begitu mengerti permasalahannya, namun aku pernah melihat mama di tampar Pak Pinto saat aku melewati jendela kamar. Aku menangis saat itu dipelukkan bantal guling hingga ayam menyalami pagiku. Aku tidak punya lagi persinggahan keluh, seperti almarhum bunda yang bisa menyuguhkan semua belaian kasih suci.

Semenjak mama Zeta ga ada, aku sering melamun merindukannya selain bunda yang sudah tiada. Satu-satunya wanita yang bisa menggantikan bunda adalah Mama Zeta. Sepi di temaram hati, terukirlah puisi pertamaku dalam hidup:

“Mama, dimanakah engkau?
Apakah aku masih anakmu?
Ataukah kau sudah tak mau menganggapku?
Aku kangen mama! aku rindu mama!
Kembalilah dekap aku
Peluklah sepiku, mama
Biarkan aku tidur di pangkuanmu
Meskipun zera menghalang-halangiku”.

Langit tak pernah tampak lazuardi di mataku, dari pagi hingga malam, bagiku jelaga dan lembayung, yang membuatku limbung hingga usiaku dua puluh tahun. Kini tak pernah merasakan lagi yang namanya kasih ataupun sayang, bagiku waktu adalah selibut.
Meski sadar tak memiliki keluarga yang membiayai hidup, aku tetap bertahan, ngamen di café, menghibur juragan-juragan, selepas pulang dari kantor yang jelas bukan karbitan.
Setiap hari, pasti aku menjadi pengemis malam dengan menghidangkan lagu damai untuk mereka yang bagiku memiliki dompet-dompet tebal.

Hingga suatu malam, saat nanar merayu kepalaku, aku istirahat sejenak setelah mempersembahkan lagu untuk pengunjung. Seperti biasa, aku pesan minum ke pelayan yang kurus kerontang, “Ner, minta air putih dan kopi kesukaanku”.

“Ok, komandan, berangkaaaat”, Nero menjawab dengan sedikit bercanda, setidaknya menghibur saat nanar menghujamku malam itu.

Nero adalah sahabat yang aku kenal lima tahun lalu, saat aku terdampar di Jakarta. Dialah yang menyelamatkanku, ketika jalan adalah sahabat setia; ngamen.

Tidak lama Nero pergi menyimpan pesananku di meja biasa, tempat istirahatku bila lelah, tiba-tiba gadis belia yang elok, anggun, dan sedap dipandang mata, menyerobot ketika aku hendak duduk di sana.

“Ngapain kamu ke sini?!”, perempuan itu menghujamku dengan kata satiris di depan umum.
Dengan lembut kujawab, “Mbak, ini tempat istirahatku, jika penat kerja, maksudku setelah menghibur pengunjung”.

“Oh, loe itu anak band yang suka hibur café sekeren ini!”, sindirnya.

Sontak kaget, aku balas cerewet perempuan itu, dengan sedikit membangkang, “Emangnya kenapa? Ga boleh ada di sini? Terserah gua donk, toh di sini ga minta-minta, cuma kerja!”.
Dengan sombongnya, perempuan itu mengguyur tubuhku dengan kopi yang masih lama dingin.
“Byuur”, tepat ke dada, aku meringis kesakitan.

Namun, saat aku mau membalas perbuatannya, dengan sigap Nero yang tiba-tiba di belakangku mengahadang agar tidak melawan perbuatan perempuan itu, malah ampun-ampunan minta maaf.

Malam itu, aku minta izin pulang lebih dulu, “Rai, aku pulang duluan”. “Ok, hati-hati di jalan”, Rai menenangkanku dari peristiwa tadi.

Perih di dada masih terasa, sisa kesombongan perempuan yang entah siapa. “Ukh.., andai dia laki-laki, pasti sudah kuhabisi”, gerutuku saat merebahkan tubuh di kostan seberang café.
Malam kembali lagi, mengecup keningku untuk mengerutkan pikiran di lagu-lagu yang temaram. Ya, hanya untuk tuan dan nyonya yang mapan. Entah, malam ini membuatku tak nyaman, menghidangkan lagu menghibur tuan.

“Plaaak”, seorang perempuan cantik ditampar lelaki yang sepertinya pacarnya, tepat di depan mataku yang berkabut asap cerutu.

Kuhampiri, lelaki itu mendorong hingga meja ambruk. “Eh loe, jangan ikut campur urusan gue!" Lelaki itu marah. “Bukan gitu mas, dia kan perempuan, masa ditampar, ga gentle banget!”, jawabku.

“Akh, gua tantang loe kalo gitu”, adrenalinnya memuncak. Tak sempat kujawab, bogem mentahnya sudah melayang di pipi kananku.

Tanpa basa-basi lagi, keributan menjadi hiburan klasik di café yang riuh karena arak. Setelah kesemerawutan berlangsung, lelaki itu terbirit-birit kabur ke luar, setelah kawan-kawanku termasuk Nero mengusir dengan pukulan-pukulan tanpa jeda.

Tanpa kusadari, perempuan itu, “Emh, kamu yang waktu itu mengguyur dadaku dengan kopi”, aku sedikit marah, ketika perempuan yang memberi tanda luka di dada adalah dia.

Namun, “Maaf, aku benar-benar minta maaf, saat itu aku kalut karena lelaki itu”, perempuan itu menggunting marahku dengan bahasa yang lebih santun, tidak seperti pertama bertemu.

Dan, “Aku Zera, pemilik saham café ini”, sembari tangannya menjulur.

Aku terperangah terkejut, setelah mendengar pengakuannya. Betapa tidak, dia adalah Bos yang menggaji Pekerjaanku selama ini. Seandainya, waktu itu dipecat, bakal kiamat.

Karena, mencari pekerjaan di ibukota muskil didapat dengan waktu sekejap. Sontak aku jabat tangannya yang lembut. “Vena, bu, namaku Vena”, sedikit gagu, aku mengenalkan nama padanya.

Setelah pesta brandal malam itu, aku kembali ke kostan, namun ada yang membuat gusar perasaan, “Mungkinkah, dia.., mungkinkah?”. Aku tak begitu menggubris perasaan bahwa Zera itu adalah puteri Mama Zeta.

Malam kembali lagi, mengecup keningku untuk mengerutkan pikiran di lagu-lagu yang temaram. Ya, hanya untuk tuan dan nyonya yang mapan. Entah, malam ini membuatku tak nyaman, hidangkan lagu menghibur tuan.

Setelah rentetan peristiwa pertama dan kedua, tentang Zera; Bosku. Semakin hari, membuat pikiran melayang selayak kunag-kunang menari dan berdendang.

Pun, Bosku, setiap hari setelah peristiwa-peristiwa itu sering datang menyaksikan performku di atas panggungnya. Berbeda dari seperti biasa, Bosku selalu mengajakku bicara dengan lemah lembut dan santun pula. Jika kuibaratkan, bahasanya laksana penyair bersajak di tengah laut, yang ditemani pendar semburat bulan.

Hari-hariku kini tak karuan, memikirkan bosku yang cantik menawan, “Mungkinkah ini keliru, ada perasaan minoru* di dada yang dilukainya; lecet. Tidak jarang, dia mengajakku jalan ke tempat yang bagiku tak kan mampu disinggahi untuk ukuran pengamen café; mahal.

Berbagi cerita, bercanda hingga tak sadar tangan tiba-tiba memintal hingga timbul sesuatu yang memekarkan hat ini. Namun, masih ada yang membuncah, ketika Zera adalah nama Bosku. Karena, Zera adalah nama yang langka dan hanya Mama Zeta yang memberikan nama tersebut sepanjang pengetahuan.

Suatu hari, ketika liburan ke pantai anyer, aku beranikan diri bertanya kepada Zera, “Zer, siapakah yang memberi nama indah untukmu?".

Sementara detak jantung tak karuan berdegup, menanti jawaban yang kucari selama ini. “Mamaku”, jawabnya lirih.

Aku bertanya lagi tanpa koma, “Siapa Mamamu?”. “Mama Zeta”, jawabnya yang masih lirih pula.

Saat itu, bagiku riak tak menyeruak, tak ada gelombang, angin pun diam di tempat. Selibut yang mengganggu selama ini, dijawab oleh seseorang yang justru aku mulai menyayanginya; puteri Mama Zeta.

Hanya sekedar memastikan, aku memohon untuk diizinkan Zera, pergi ke rumahnya saat itu juga. Dan, Zera tidak sama sekali menolak. Dengan aura yang berbeda, Zera mengajakku ke rumahnya.

Tiba di rumahnya yang megah, Zera membawaku langsung ke kamar Mama Zeta. Tak kudapati sosoknya yang kuharapkan memeluk erat hadirku.

Namun, berkisahlah Zera tentang kejadian yang mengerikan hingga akhir cerita, “Mama Zeta dibunuh Papa Pinto karena cemburu buta”.

“Aku sekarang tinggal bersama Papa Lien, dia adalah suami kedua mama, karena Papa Pinto selalu menyakiti setiap mama melakukan kesalahan yang sebetulnya tidak penting, maka mama menikah dengan papa Lien yang dikenalnya di acara pameran Papa Pinto. Sejak pertemuan itu, mama menjalin komunikasi yang mengakibatkan Papa Pinto cemburu, dan…,”.

Zera mengakhiri cerita, sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku yang lecet karena dirinya. Bersamaan rinai matanya membasuhi bajuku yang tidak terlalu bagus, aku bacakan puisi yang kubuat untuk Mama Zeta:

“Mama, dimanakah engkau?
Apakah aku masih anakmu?
Ataukah kau sudah tak mau menganggapku?
Aku kangen mama! aku rindu mama!
Kembalilah dekap aku
Peluklah sepiku, mama
Biarkan aku tidur di pangkuanmu
Meskipun engkau lebih mencintai Zera”.

Zera limbung ketika kuakhiri sajak itu, dan dia bertanya, “kenapa ada namaku di puisimu?”.
Karena cintaNya, aku mencintai mama dan kamu. “Aku adalah anaknya juga, namun tidak sedarah”, tegasku.

“Oh..,” Zera tak menyelesaikan kalimatnya, justru pelukan eratnya bicara, bahwa cintanya adalah pelukan Mama Zeta.

-----2010----

-----------------------
Minoru* : Buah, berbuah.
Readmore
Share |

Cerpen D. Dudu A.R

Jelaga Bintang
Oleh : D. Dudu AR

Sedu sedan selalu berlirih ketika fajar menyambut shubuh, ”Ya Allah berilah Aku kekuatan untuk membesarkan anak-anakku” Begitulah suara parau yang berdesir di telinga setiap lelap menitik nadir. Terkadang embun mata selalu mencoba merayu haru, jatuh membasahi kasur lusuh. Hal itu selalu menghiasi pagi Bintang bila ibunya menengadahkan tangan dan kepala pada-Nya.

Bintang adalah anak laki-laki dari Pak Muni, seorang pensiunan guru SD, sementara Bu Nura hanya buruh Usaha Kecil Masyarakat tetangga serta Tura adalah kakaknya yang menunggu panggilan kerja dari perusahaan. Rumah bilik bambu, tumbuh tanaman umbi dan ketela sebagai perindang kebun di belakang, serta pemandangan sawah dan pegunungan bak lukisan gambar anak-anak waktu SD, menambah khazanah kedamaian kalbu. Di gubuk kumuh itu, Bintang hanya membantu ibunya, setiap hari pulang sekolah, kegiatannya adalah mengaji, mengerjakan PR dan kegiatan-kegiatan lain yang membanggakan orangtua.

“Tang.. Bintang.. Bantuin Ibu ambil suluh di kebun, untuk masak hari ini!” Perintah Ibu.
Bergegaslah Bintang mengambilkan suluh sesuai suruhan ibunya. “Ini bu, disimpan di dapur” Bintang memberitahu.

Tidak lama kemudian kakaknya datang, “Assalamu’alaikum…”.
“Wa’alaikum salam” Sahut seisi rumah.
“Dari mana, kak?” Tanya Bintang.
“Biasa, latihan di studio musik teman”. Jawab Tura.
“Ooough…” Bintang mencoba mengerti maksud kakaknya.

Terdengar petikan nada yang asing ditelinga, karena jiwa apresiasi memang belum tumbuh di hati dan jiwa. Terlihat sesosok lelaki, memangku alat musik di atas paha, duduk berbangku bambu menghadap sawah.

”Oh..Ternyata kakak yang sedang menarikan jemari dan bernyanyi dengan gitarnya” Tengok Bintang.
Lalu, ”Hentikan, Kak Tura! Jangan main gitar! Itu adalah senandung syaitan dan haram pula hukumnya" Larang Bintang.
”Akh.. kamu, berani menceramahiku! Sana bantu ibu saja!” Tura marah dan tak menggubris.

Bintang memang belum toleran dengan pemahaman agama pada saat itu. Bila yang diterima haram maka dikatakan haram, jika yang diterima halal maka dia sampaikan halal, tanpa tahu sebab akibatnya.

Saat itu Bintang masih kelas 2 SMP, jika melihat orang yang bermain gitar benci dan tidak pernah ikut-ikutan berkumpul bersama mereka. Setahu dia saat itu adalah belajar dan belajar. Di kelas, Bintang dikenal sebagai siswa berprestasi. Rangkingnya berputar-putar saja di 3 besar.

’Tang, nanti sore belajar bersama yuk?” Ajak Doni, sahabat karibnya yang berbeda kelas.

”Emh.. besok sajalah Don, aku banyak PR nih” Jawab Bintang, bermaksud menolak dengan lembut.

Bintang memang memiliki waktu luang sedikit setiap hari, karena tugas di rumahnya banyak, terutama membantu ibunya, yang seperti biasa dia lakukan sehari-hari.

Mega di langit seolah memandangi hari begitu ceria, senjapun menyerupai bidadari memagari sore menambah gairah aktivitas.

”Bintang.. Kak Bintang..” teriak teman-temannya bergerombol.
”Ya.. ada apa teman-teman?” Bintang menyahut.

”Main Sepakbola yuk?” ajakan teman-temannya.

”Siap teman-teman! Tapi, setelah PRku selesai ya.. nanti nyusul ke lapangan dech” Bintang menjelaskan sembari meyakinkan teman-temannya bahwa dia akan ikut bermain.
”Ok dech kalau begitu, ditunggu ya!” sahut teman-temannya.
Setengah jam berlalu, mereka asyik bermain. Namun, dari tadi Bintang belum muncul-muncul tak kelihatan batang hidungnya.


”Teman-teman, kok Kak Bintang belum datang juga ya?!” Kenda mengingatkan.

Timpal Gito, sambil memerintahkan Kenda ”Coba kamu samperin lagi Ken!”

Kemudian Kenda berangkat naik sepedanya, ”hah.. hah.. hah..” Kenda mengayuh dengan hembusan nafas pendek, sisa mengejar bola di lapang.

Baru juga tiba di rumah Bintang, Dia melihat Bintang sedang mencuci piring di samping rumahnya yang terdapat sumur kecil. Karena tidak tega, Akhirnya Kenda malah membantu Bintang menyelesaikan cucian piring.

”Ken, kenapa kamu tak berangkat lagi ke lapang? Nanti teman-teman marah lho!” Bintang mengingatkan. ”Kamu berniat mengajakku lagi ’kan?” Tegas Bintang.

”Sudah, ga apa-apa, aku ingin membantumu supaya cepat selesai. Kita berangkat bersama saja ke lapang” Kenda menenangkan hati sambil menyelesaikan sisa cucian.

Lalu, setelah selesai mencuci piring bersama, Kenda dan Bintang bergegas meninggalkan rumah, karena takut teman-temannya kecewa menunggu dari tadi.

**

Hari, Minggu, Bulan dan tahun serta musim berlalu, sikap bersahaja keluarga sederhana itu tak berubah. Seperti yang lalu-lalu, mereka menjalani hidup tanpa berlebihan.

Namun, ada yang menggundah gulana dalam fikiran Bintang saat beranjak ke kelas 3 SMP. Mungkin karena proses hidup yang mulai meremaja. Bintang, mulai berfikir bahwa seni adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk bersasmita dengan intuisi dibalut keindahan birama jiwa.

Otak kanan mulai menerima kesan-kesan estetis dari getaran nada yang bergumul dalam harmonisasi yang dihasilkan Gitar orange, neck hitam, stem putih dan fret 18, warisan kakaknya.

Mulai saat itu, Bintang jatuh hati pada alat musik berdawai enam, meskipun dia sadar membangkang prinsipnya dahulu. Namun, hal itu tidak menjadi jeda untuk mendalami keinginannya, karena dia sudah proporsional dalam memposisikan konteks ’haram’ yang pernah ia lontarkan ke kakaknya.

Bintang mulai merayu kawan-kawan kakaknya yang biasa nongkrong di warung Pak Tresna, di belakang rumah. Suatu hari Bintang disuruh ibunya belanja ke Warung Pak Tresna, kebetulan di sana ada Mas Andre yang sedang memainkan gitar. Mas Andre adalah teman Tura, sering main ke rumah, kadang-kadan mereka memainkan gitar sama-sama, ngulik tepatnya.

”Mas Andre, minta diajarin dong..!” Pinta Bintang.

”Kapan?” Tanya Mas Andre yang memang miskin bicara.

”Biasanya, mas punya waktu luang kapan?” Bintang balik bertanya.

”Ya sudah, tiap sore saja datang ke rumah ya! Jangan lupa bawa gitar kakakmu itu!” Mas Andre bersedia mengajari.

”Ya, siap mas! Mulai besok aku akan ke rumahmu jam empat sore. Sebelumnya terimakasih ya, Assalamu’alaikum” Dengan girang, Bintang pamitan.

Setiap sore Bintang diajari mas Andre tentang chord-chord standar, kunci yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam memainkan gitar. ”Brang.. breng.. brong.. brang.. breng.. brong” Begitulah nada yang keluar dari strumming permainan gitar Bintang satu minggu pertama di rumah Mas Andre. ”Duh.. jari kamu masih kaku, jangan setengah-setengah kalau pengen cepet bisa!” Keluh mas Andre.

”Ooouh.. gini sih mas, gitarku ’kan ’ga s’lalu ada di rumah, teman-teman kakak suka pinjem, jadi jarang latihan di rumah” Dalih Bintang.

Kemudian Mas Andre memberi solusi, ” Makanya, kalau ada gitar di rumah, manfaatkan sebaik-baiknya, banyakin senam jari agar tidak terlalu kaku!”

Hampir sebulan belajar gitar dari Mas Andre, Bintang mulai jenuh memainkan chord-chord standar yang diberikan tiap hari. Tapi, jarinya sudah lumayan bisa menguasai perpindahan chord-chord yang telah diberikan Mas Andre.

”Mas, minta diajarin lagu dong, buat selingan di rumah, ’kan jenuh ngapalin chord gitu-gitu aja!” Bintang memohon sambil mengeluh atas jenuhnya.

”oh.. iya. Karena kamu sudah bisa chord-chord, sini mas contohin mainin lagu!” Mas Andre memberikan reward atas keluhan Bintang.

”Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang, walau sekejap
Ingin s’lalu dekat denganmu, enggan hati berpisah
Larut dalam dekapanmu, setiap saat, ooouh..

Oh, kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu disini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepiiiiii yeeeeah

Kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu disini...
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepiiiiiii, hanyut di dalam sepiiiii
Ooooooh.... Ooooooh... Kasih jangan kau pergi”

Mas Andre memberikan lagu untuk dipelajari Bintang dari ciptaan Galang Rambu Anarki (Bunga Band). Kebetulan, Bintang sangat menyukai lagu tersebut, karena sentuhannya yang lembut.

Setelah itu, Bintang berhenti, karena Mas Andre berangkat ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.
Tapi sebelum berangkat, Mas Andre berpesan ”Tang, yang rajin belajar gitarnya ya! Banyakin ngulik lagu, atau kursus di Blues Studio, punya Mas Rama”.

Dan, pamitlah Mas Andre kepada Bintang, tidak lama peluk perpisahan mendekap, Bis sudah berada di depan.
Lalu, ”Selamat tinggal Tang.. sampai ketemu lagi!” Teriak Mas Andre.
Sebenarnya Bintang sangat kehilangan ’guru gitar’, jelas dia sedih ditinggalkan Mas Andre. Namun, Bintang bertekad akan kursus di Blues Studio, sesuai saran Mas Andre.


” Do you have the time, To listen to me whine,
About nothing and everything all at once?
I am one of those,
Melodramatic fools
Neurotic to the bone no doubt about it ...............,


She...
She screams in silence
a Sullen riot penitraiting through her mind
Waiting for a sign
To smash the silence with the brick of self-control.....,“

Tak disadari setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Bintang dicengkoki lagu-lagu terutama Basket Case dan She, dari Green Day, Band asal Amerika dengan genre melodic Chord, full distortion dan sedikit Punk Rock, oleh kakaknya.

Saat itu, semakin membuat otak kanan Bintang matang menerima jenis seni, yaitu musik. Pada akhirnya, Bintang sering membayangkan tentang kemegahan panggung konser, disambut riuh tepuk tangan penonton memuja.


Hal ini dialami oleh Bintang pada saat kelas 3 SMP, namun concern pada kewajiban sebagai pelajar, tidak dilupakan. Malah bisa dibilang, SMP adalah masa emas prestasi akademiknya.

Seiring waktu berjalan, EBTANAS atau UAS akan segera dilaksanakan di SMP N 1 Langit Kecamatan Jagad Raya Kota Ruang Angkasa, disana Bintang mengenyam pendidikan tingkat SMP.


Bukannya intensitas belajar meningkat, untuk menghadapi ujian, eh.. Bintang lebih memilih kursus gitar di Blues Studio ketimbang bimbingan belajar.

Suatu hari, tanpa sepengetahuan ibu-bapak, Bintang berangkat untuk mendaftarkan diri sebagai siswa di tempat kursus Blues Studio.

Tiba di Blues Studio, bertemulah Bintang dengan Mas Rama. Namun karena ragu, Bintang bertanya kepada salah seorang petugas yang sedang duduk di tempat pendaftaran sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya,

”Maaf mas, mau tanya, kalau Mas Rama itu yang mana ya? Kebetulan saya tetangga Mas Andre, dia menyuruh saya kursus di sini” Tanya Bintang sambil malu-malu, karena banyak siswa lain yang diantar ibu-bapaknya sambil menenteng alat musik sendiri.

Sementara, Bintang hanya membawa gitar accoustic butut warisan kakaknya.

”Oh, kamu Bintang, ya ya ya, saya Rama. Kebetulan Andre pernah bicara dengan saya, kalau ada kamu daftar, dia minta saya membimbing kamu langsung” Mas Rama menyambut dengan cengkrama hangat.

Di Blues Studio, pengajar yang bagus adalah Mas Rama. Makanya, banyak siswa yang membuat schedule dengan dia.

”Kalau begitu, silahkan kamu isi formulir dan membayar uang pendaftaran seratus ribu” Mas Rama menyambung, kemudian memberikan formulir.

Bintang memelas dalam hati, ”Duh, mana cukup uangku untuk daftar”.
Setelah selesai mengisi formulir, lalu Bintang memberikan formulir tadi. Kemudian,

”Maaf mas, aku bawa uang cuma lima puluh ribu, ini juga hasil tabungan selama dua bulan” Tegas Bintang.

”Ya sudah, ga apa-apa” Mas Rama mengambil uang Bintang serta formulir yang sudah diisi, sembari matanya menoleh kesana-kemari, agar tidak dilihat pendaftar-pendaftar lain.

Setelah panjang lebar mengobrol dan membuat jadwal latihan yang diputuskan setiap jum’at sore per minggu, Bintang kembali pulang.

Setiba di rumah, ibunya bertanya ”Dari mana saja kamu, Tang?”. ”Dari rumah teman, bu” Jawab Bintang.
”Kok lama sekali mainnya, tidak seperti biasa!” Tegas ibunya. ”Itu..emh..emh..” Bintang bingung menjawab.

”Kenapa?” Tanya ibunya.

Karena tidak tega berbohong kepada ibunya, Bintang berusaha jujur mengatakan ”Sebetulnya, aku daftar kursus di Blues Studio, karena ingin bisa main gitar yang baik bu..”.

”Duh.. Bintang.. Bintang.., kamu itu dari keluarga yang miskin, ibu tidak akan sanggup bayar bulanannya,mau jadi apa kamu nanti?! Yang bener saja sekolah, jangan mikirin yang lain!” Keluh ibunya.

”Bukan begitu sih bu.., Bintang sedang ingin belajar gitar saja” Bintang menambah penjelasan.
Kebetulan senja tiba-tiba tak menampakkan keelokkan di sore itu. Mungkin mendukung apa yang di keluhkan Ibu Nura. Dan Bintangpun bergegas ke kamar mandi, karena sebentar lagi kumandang adzan akan segera bersenandung.

Hari Jum’at selalu ditunggu Bintang setelah daftar di Blues Studio, karena dia tidak sabar dengan pembelajaran yang akan diberikan Mas Rama.

Tibalah Jum’at yang ditunggu-tunggu. Semangat untuk belajar terlihat dari aura paras Bintang yang cerah, bibirnya tak bisa berhenti untuk mesem-mesem sendirian. Bu Nura saja kadang-kadang mengelengkan kepala, bila melihat kelakuan bungsunya itu.

”Assalamu’alaikum” Bintang mengucapkan salam sembari membuka pintu Guitar Room, ternyata Mas Rama sudah menunggu dengan setia.
”Silahkan duduk, Tang!” Sambut Mas Andre.

”Kamu sudah bisa strumming dan plucking ’kan?” Tanya Mas Rama kepada Bintang yang jelas kebingungan dengan istilah tadi. Strumming dan plucking tuh, apa ya mas?” Karena bingung, Bintang balik bertanya.

”Hmm.. Strumming itu mengocok guitar, kalau plucking itu memetik” Jawab Mas Andre sembari menjelaskan.

Dengan serius, Bintang menyimak setiap penjelasan Mas Rama dalam pertemuan pertama.
Dan, yang dapat di bawa ke rumah hasil kursus hari pertama yaitu lick-lick A major dan minor Arpeggio.

Setiap hari, Bintang selalu mempelajari apa yang diberikan Mas Rama. Biasanya, dilakukan setelah mengerjakan PR atau pulang dari pengajian. Tak pernah kata keluh keluar dari bibir tipisnya yang manis.

Berlanjut kepada pertemuan ke empat yang berarti pertemuan terakhir dalam sebulan, Bintang belajar memainkan gitar dengan serius di tempat kursus,

”Blues adalah salah satu genre skill gitar yang banyak dipelajar. Karena,akar dari segala aliran adalah sumbernya dari Blues” Jelas Mas Rama.

”Oh.. Ternyata Blues merupakan akar lick-lick melodi yang nantinya berkembang menjadi genre rock, pop, jazz, dsb” perangah Bintang saat baru mengetahui.

Hanya satu bulan Bintang kuat membayar tempat kursus, itu juga dengan menjual beras terlebih dahulu.

”Bu, sudah sebulan Bintang kursus tapi belum bayar uang bulanannya” Bintang mengeluh.

”Tuh.. ’kan sudah ibu bilang, kalau uang jajanmu tak ’kan cukup membayar uang bulanannya!” Sindiran ibunya.

Karena tak mampu membayar tempat kursus, akhirnya berhenti di tengah jalan. Namun, Bintang tak ingin ambisi memainkan skill blues yang menawan, gagal.

Setiap hari Bintang mengasah skill gitar yang pernah dipelajari di tempat kursus, tanpa lelah. Bintang mulai ingin menjadi gitaris yang handal, setelah Blues memberikan nyawa dalam intuisi musiknya.

Tanpa sadar ujian sekolah sudah di depan mata, tanpa bekal persiapan yang matang, dihadapi dengan tenang. Semua mata pelajaran dilewati tanpa beban, dan hasil ujianpun tidak terlalu buruk. Malah rangking yang di dapat masih termasuk 5 besar. Mungkin, karena otak masih segar menampung semua transformasi pelajaran dari guru, tidak disia-siakan oleh Bintang sebelum ujian dilaksanakan.

Namun, pada saat pembagian hasil NEM, nilai yang diraih masih kurang satu poin untuk masuk ke salah satu SMU favorit di kota. Bintang menerimanya walaupun sedikit kecewa, karena memang kurang mempersiapkan dengan matang.

Saat itu Bintang bingung, ”Duh, harus masuk ke SMU mana lagi ya?” gerutunya.

”Seandainya NEMku pas atau melebihi ketentuan SMU itu, aku pasti masuk” Khayalnya.

Karena Bintang belum menentukan pilihan kedua, untuk masuk ke SMU lain, dia tambah bingung karena takut tak masuk kemana-mana.

Dengan dorongan bapaknya, Bintang tetap bisa melanjutkan sekolah. Tidak lama beranjak dari kebingungan, bapaknya mendapatkan informasi pendaftaran di sekolah yang baru diresmikan. Kebetulan, menerima jumlah nilai NEM berapapun.

”Tang, masuk saja ke SMU Taman Langit!” Saran Bapaknya. Setelah itu Bintang berangkat daftar diantar oleh bapaknya, dan alhamdulillah diterima. SMU N Taman Langit, disanalah Bintang mengenyam pendidikan SMU.

***

SMU adalah masa yang penuh dengan percobaan liar dan perubahan sikap. Segala hal ingin dicoba tanpa menghiraukan akibatnya. Perubahan tingkah laku mulai terasa saat lelah menghampiri jiwa, tentu masih mentah untuk dibentuk. Perangai Bintang berubah 360o, karena SMUN 1 Taman Langit adalah sekolah yang harus Bintang tempuh dengan duakali naik angkutan umum selama 1 jam, karena lokasinya jauh dari rumah.

Sering sekali terlambat, kesiangan dan di hukum karena jarang upacara bendera dan telat masuk kelas. Kebetulan SMU Taman Langit adalah sekolah yang baru diresmikan, belum ada kepala sekolah yang menjabat, serta baru satu angkatan yang ada. Keadaannya masih terkesan bebas bagi anak-anak badung yang jarang masuk. Di sekolah inilah aku mulai merubah paradigma tentang pendidikan, aku mulai tidak menghiraukan prestasi sekolah karena yang aku cari kali ini hal-hal yang berhubungan dengan musik alias membentuk band dengan teman-teman.

”Allahuakbar, Allahuakbar...,” Adzan magrib berkumandang memanggil jiwa raga untuk bertekuk lutut di surau biasa.

Setelah sholat selesai, Bintang masih pergi ke pengajian muda-mudi.Setelah selesai pengajian, saudaranya memanggil dari belakang.

”Tang..tang..” Bintang menengok ke belakang.

Terengah-engah saudaranya menghampiri, ”Tang, kawanku yang suka nongkrong di pasar, sedang membentuk grup band” Saudaranya menjelaskan. ”Lalu?” Bintang ingin tahu kelanjutan cerita saudaranya. ”Ya, dia sedang mencari personil gitar satu lagi, saya cerita ke dia bahwa kamu juga main gitar” Sambung saudaranya.

Bintang merasa bangga ditawari menjadi personil band, kebetulan saat itu sedang ingin membentuk grup band. Dua hari kemudian, dipertemukanlah Bintang dengan teman saudaranya. Di tempat tongkrongan anak muda pusat kota. Di tongkrongan mereka saling melontarkan pertanyaan. Tanpa panjang lebar, setelah membicarakan visi misi yang ditawarkan teman saudaranya, Bintang sangat tertarik untuk bergabung dengan konsep pembentukan band yang telah dipaparkan.

Awalnya, sesuai kesepakatan posisi Bintang sebagai gitar rhythm. Namun, berhubung pemain bass belum menguasi beat dan tempo drum, maka Bintang beralih posisi menjadi bassis dan pemain bass menggantikan posisinya. Mulai saat itu, tercetuslah nama MIGAIL BAND yang beranggotakan Vieri (Lead Guitar), Ernes (Guitar Rhythm), Yosa (Drum) dan Bintang di Bass. Namun sayangnya, saat itu belum memiliki vokalis yang justru sangat vital sebagai Front Man di suatu grup band.

Hari terus berganti hingga dua minggu kemudian, baru mendapatkan vokalis yang bernama Siva, kebetulan dia orang Bekasi yang sedang melaksanakan PPL sekolah STMnya. Semua mengenal Siva ketika nongkrong di pusat perbelanjaan kota, ngobrol kesana-kemari, akhirnya nyambung dan sepakat untuk menjadi vokalis Migail Band. Dari saat itu, briefing pertama di rumah Vieri (Lead Guitar), untuk saling mengenal karakter masing-masing, mulailah dengan lagu Slank. Jiwa-jiwa mulai melebur bersatu dengan kumpulan notasi yang disenandungkan.

Hari mulai sore, mereka menuju pusat perbelanjaan kota, nongkrong seperti biasa. Bercanda-gurau mengenal satu sama lain, bercerita pengalaman masing-masing, semakin nyaman menyatukan hati dan rasa, agar dalam perjalanan semakin kokoh menjadi salah satu band indie yang dikenal, minimal di kota sendiri.


Minggu keempat di bulan pertama pembentukan grup band, barulah masuk studio, mencoba lagu karya sendiri yang sudah dikonsep sebelumnya. ’Taman Biru’ adalah lagu pertama yang diciptakan. Mereka percaya diri membawakannya. Setiap latihan lagu ini wajib dibawakan. karena waktu itu jenis musik yang lagi ’on fire’ dikalangan anak muda adalah musik yang bergenre Punk dan Underground, jauh sekali dengan jenis musik mereka yang lebih nge-Blues, semi energik dengan sentuhan fill-in melodi yang dapat menghempaskan jiwa dari combine strumming dan plucking gitar Vieri dan Bintang.

Bersama Migail Band, Bintang memberanikan diri mengikuti festival musik kesana-kemari. Hingga suatu hari dalam Festival Pelajar di ibu kota, menjadi juara pertama, walaupun tanpa dukungan orang tua.


Masa SMU, Bintang senang mengikuti acara seni di sekolah ataupun festival-festival musik bersama Migail Band. Walaupun terbilang dari keturunan keluarga yang jarang harta, pergaulannya luas dan Bintang dikenal kawan-kawan sebagai guitaris otodidak yang hebat.

Kehebatannya, karena dia memiliki sifat ulet apabila ingin menguasai sesuatu, temasuk mengulik skill guitar. Bintang hanya belajar melalui fotokopi partiture atau tabelature Jimmy Hendrix, Yngwy Malmsteen, Paul Gilbert, Steve Ray Vaughan, Steve Vai yang dimiliki dari teman-teman pergaulannya, walauun pernah semat mengenyam kursus di tempat Mas Rama.

Pernah juga dia mencuri Buku Tabelature karya WC. Handy (Bapak Blues Dunia), yang dicari-cari Bintang. Kebetulan teman sekelasnya di SMU mempunyai buku itu.

“Mi, pinjem tabelaturenya ya..?” Bintang meminta. “Jangan! Tidak boleh sama pengajar kursus saya!” Romi menimpal tegas.

“Seming..gu, tolonglah Mi!” Bintang memohon. “Ga boleh! Tetep ga bisa!” Geram Romi. “Kalau mau kamu kursus saja sama pelatih saya, gimana?” Tawar Romi.

Bintang mengeluh paksa, “Kan kamu tahu, rokok saja minta ke kamu.

” Ya sudah kalau begitu, untuk yang satu ini, kamu ga boleh pinjem tabelature saya, titik!” Romi mengakhiri percakapan.

Entah kenapa tiba-tiba Romi mendadak pelit setelah kursus gitar di tempat kursus terkenal di kota.

“Mungkin takut tersaingi?" Tanya Bintang dalam benak.. “Akh..sudahlah, lihat saja nanti.” Bintang tak acuh.

Bintang tertegun sejenak, memaknai penggalan kalimat Romi yang terakhir. Desing peluru ‘kata’ romi bersarang di hatinya. Kemudian terbersitlah niat bahwa suatu hari Bintang akan ‘mencuri’ buku Romi.

Namun, Bintang tak sejahat itu, “setelah bisa, baru akan aku kembalikan” Niat dalam hatinya.

Alasan Bintang mencuri, karena Romi pelit tidak mau membagikan ilmu guitarnya. Namun setelah dikuasai, Bintang mengembalikannya kemudian meminta maaf.

****


Baru sebulan menjadi alumni, hobinya tersendat-sendat dicurahkan, karena teman-teman pergi melanjutkan kuliah ke luar kota. Sementara dia mengalami keguncangan jiwa akibat terlalu bebas bergaul masa SMU, Tembakau ‘Aceh’ atau ‘Jamaika’ yang menghancurkan kecerdasan Bintang dalam akademik. Setiap hari menjadi anak yang tidak seperti dulu lagi, sering membantah, tidak menurut dan jarang membantu ibunya.

Berdiam diri menjemput hari ke minggu lalu ke bulan, tak ubahnya pemalas kumal tidak punya pekerjaan. Pengangguran tepatnya, hal itu berjalan pasca SMU karam. Siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang, pola terbalik menghiasi hidup ‘malam-siang ‘. Kebuntuan memagari hari-harinya.

Berselibut jiwa Bintang dalam peraduan, “Kemana Bintang pergi? Berjalan? Menuju? dan mencari? Ukh… Bingung sekali!”. Tubuhnya hanya bersasmita menunjukkan ketidak berdayaan diri menjalani hidup.


Suara parau dari balik dapur kumuh terdengar “bangun Nak! Bapakmu sudah qomat di surau, makmumin sana!” ibunya membangunkan.

Kemudian, Bintang menuruti titah dari ibunya, untuk memenuhi panggilan Tuhan.

Tibalah Bintang di surau dengan disambut sarkasme bapaknya, “Sholat subuh nanti saja, saat Matahari di atas kepalamu!” Bapaknya marah karena ketika Bintang datang, Pak Muni baru selesai wirid.

Begitulah seorang bapak pensiunan guru, selalu tegas mendidik anaknya. Termasuk keinginannya, agar Bintang meneruskan jejaknya sebagai guru untuk terlebih dahulu melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan pendidikan.

Setahun berlalu, Bintang mulai menata kembali kewajaran hidup.

“Tang, kalau kamu tidak mau menurut sama bapak, silahkan kamu hengkang dari rumah ini!” Ultimatume bapaknya.

Terlarut jiwa Bintang dalam kebimbangan setelah diancam bapaknya. Setelah memikirkan perkataan bapaknya, Dia menurut untuk melanjutkan kuliah ke salah satu PTN jurusan pendidikan.

Dengan tes yang ketat, Bintang terdaftar dalam pengumuman hasil tes alias masuk seleksi di PTN tersebut. Bintang juga tidak asal sebelum tes dilaksanakan, dia membuka kembali buku-buku tentang pengetahuan dan pendidikan. Alasannya, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak segoblog masa SMU.

Mulailah Bintang masuk kuliah di hari pertama, namun kegundahannya sangat mengganggu jiwanya. Dia tidak menikmati perkuliahan, dengan alasan tidak sesuai dengan minatnya yaitu menjadi guru, kemudian dengan aturan-aturan yang ketat; harus memakai celana katun, sikap sopan, baju dimasukkan ke celana dan memakai ikat pinggang. “Akh.. Ribet amat” gerutu dan kesal menggerogoti hatinya.

Dia mencoba sabar untuk terus mengikuti perkuliahan. Namun, beban yang dia bayangkan untuk menjadi seorang guru sangat berat.

Dalam fikirannya, “Aku harus mendidik anak bangsa, sementara Aku.., waduh Aku takut tidak bisa memberikan tauladan”.

Begitulah fikiran-fikiran menjelang semester tiga selesai. Kemudian Bintang tidak tahan ingin keluar dari PTN tersebut.

Lalu dia mencurahkan kegelisahan, pada ibunya.

“ Bu, aku tidak tahan kuliah di PTN itu, karena nantinya aku harus menjadi guru.
Sementara dengan sikapku yang seperti ini.., perangaiku seperti ini.., aku takut salah mengajarkan sesuatu yang tidak baik nantinya”. Keluh Bintang kepada Ibunya.

Nasihat sederhana terlontar dari mulut yang sudah lembek dibalut wajah berkulit keriput, “Nak orang lain saja bisa, kenapa Bintang ‘ngga?”.

Dari nasihat ibunya, Bintang kembali kuliah seperti biasa. Hingga semester terakhir dia jalani dengan tersendat-sendat atas ketakutan bahwa dia tidak bisa menjalankan apa yang dinasihatkan Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani”. Karena ketiga nasihat itulah bintang semakin paranoid.

Berlalulah waktu masa kuliah. Pasca sarjana dia menjadi guru honorer selama tiga tahun. Di samping itu, terkadang teman-temannya, mengajak nge-jam (nge-band tanpa komitmen) di acara-acara yang lumayan menghasilkan uang untuk seminggu.

Selama menjadi guru honorer, bintang banyak belajar tentang adab, tatakrama guru, bicara yang baik dan benar, melayani siswa dengan hati, dan hal-hal lain yang membuat dirinya berevolusi kembali menjadi Bintang seperti masa SMP.

Selama menjadi guru honorer pula tidak berjalan dengan mudah, banyak bersinggungan dengan kepala sekolah, karena kegiatan Bintang di luar jam mengajar yaitu nge-jam alias mencari tambahan uang untuk bertahan hidup, dirasakan kepala sekolah mengganggu jadwal mengajar di sekolah.

Memang, gaji guru honorer sangat tidak layak pada kenyataannya. Pemerintah memang tega terhada pioneer pendidikan yang bisa menjaga peradaban bangsa.

Suatu hari Bintang mengikuti tes CPNS, keinginannya untuk masuk sangat diidamkan oleh dirinya dan keluarga. Dia mencoba daftar ke POS terdekat untuk menjadi salah satu peserta tes. Sebelumnya, seperti diri Bintang yang asli, tak pernah dirinya tanpa persiapan untuk menghadapi sesuatu.

Berlangsunglah tes CPNS yang ditungu-tunggu, dengan tenang Bintang menjawab soal satu persatu dengan segala daya fikirnya.

“Teng.. teng.. teng..” Waktu tespun telah habis. Bintang pulang dengan hati berharap agar dalam pengumuman namanya terpampang alias masuk seleksi dan menjadi salah satu CPNS yang diangkat.

Seminggu sudah dilewati, hasil pengumuman CPNS membuat malam-malam Bintang tak melelapkan matanya dalam tidur.

“Tok tok.. tok ok” Ketuk pintu mengganggu Sholat Shubuh Bintang pagi itu. “Assalamu’alaikum…” Dari Balik pintu berucap salam. “Wa’alaikum salam..” sahut Bintang.

Pintupun dibuka dan, “ Deub..” ternyata pamannya, langsung memeluk Bintang yang belum siap menyambut. “Ada Apa, Mang?” Tanya Bintang. “Selamat, selamat, Tang” Tiba-tiba tangan pamannya langsung menjabat tangan Bintang. ‘Kau, masuk CPNS tahun ini. Mang, tadi baca di koran”. Jelas Pamannya.

Jatuhlah ribuan tetes air mata Bintang saat itu, dirinya tak percaya telah dipercaya terutama oleh Tuhan yang menakdirkan dirinya menjadi seorang guru. Berbagai macam masa lalu yang buruk membayangi fikiran, serta menghantui Bintang dalam menjalankan tugas menjadi guru.

Sontak ibu bapaknya memeluk Bintang yang sedang tersimpuh rimpuh atas kabar bahagia dari amannya. Setiap hari menunggu SK, hati Bintang selalu bergetar bk badai menghempaskan segala yang ada.

Kalimat yang selalu diucapkan menyambut SK adalah 'Alhamdulillah', setahu dia cara bersyukur yang paling sederhana adalah dengan mengucapkan tahmid tersebut.

Dalam benak dan tekad Bintang sekarang adalah bersyukur dengan sesungguhnya; melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Karena, dengan turunnya SK, bukanlah gaji yang dia fikirkan.

Tugas yang diemban tidak mudah dan bukan hadiah, tetapi tanggung jawab yang lebih membumi meyambut di depan mata.

Sesuai dengan Tujuan Nasional di negaranya, membentuk siswa menjadi warga negara yang; Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


----2009----
Readmore
Prev Next Next


Copyright @ 2011 By. Dina Cerpen