Selamat Datang di Blog Dina Cerpen

Share |

Cerbung Afandi Maulana

Santri 30 %
(Bagian Empat)

Sebulan sudah Zae, di kobong 12 tanpa sahabat dekatnya, “Rulli”, hari-harinya dilalui dengan kegiatan rutin yang terpampang di pintu lemarinya, mesti demikian Zae sedikit mengurangi aktifitas belajar, untuk bisa berbaur lebih lama dengan teman sekamarnya di kobong 12, Zae tidak ingin kejadian sebulan yang lalu terulang kembali, minimal Zae punya perhatian khusus buat teman-temannya.

Matahari mulai terbenam, di malam kamis ini kobomg 12 kebagian menjadi petugas Mubalighin (latihan menjadi mubaligh/Ceramah) yang di adakan setiap Asrama di pesantren itu, Zae untuk malam ini sebagai Mubalignya, sedang untuk yang lainnya memilih peran masing-masing, seperti Nana menjadi MC, Patah dan Sandi membaca Shalawat dan Qira’ah, jika saja ada Rulli, Rulli yang akan Qira’ah, anak-anak sekobong tahu kalau Rulli pandai berqira’ah, di bekasi Rulli pernah menjuarai Qira’ah setingkat sekolah, pernah juga juara Qira’ah se-Dki Jakarta tingkat SLTP, dan itu suatu anugerah buatnya, untuk hiburannya Riki akan tampil sebagai biduan lokal.

Setelah makan sore mereka kumpul di dalam kobong untuk persiapan tampil nanti malam, jangan sampai tampilan nanti malam mengecewakan teman-teman satu asrama. Menjelang magrib Zae dan teman sekobongnya bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan shalat Magrib berjama’ah, walaupun Zae pernah juara pidato di daerahnya, hati Zae masih saja dek-dekkan karena ini adalah tampilan pertama Zae di Pesantren untuk ceramah, di masjid Zae masih saja terus menghapal materi ceramah, sampai waktu shalat magribpun Zae tak henti-hentinya mikirin tampilannya nanti, apa bagus, atau jelek, atau biasa-biasa saja.

"ah aku pasti bisa, biarlah tidak bagus, aku kan sedang belajar” bathinnya.

Jarum jam mengarah pada angka delapan, ini artinya acara mubalighin akan segera dimulai, Zae dan kawan sekobongnya kumpul di kamar Rois, sedang santri-santri yang lainnya berkumpul di halaman asrama, ada juga yang masih di dalam kamar bersantai-santai, biasanya keamanan asrama berkeliling mengontrol tiap-tiap kobong, supaya santri keluar dan kumpul dihalaman asrama.

Waktu telah tiba, Nana sebagai MC mulai mengumandangkan salam “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” serentak seluruh penghuni asrama menjawab “wa’alaikum salam warah matullahi wabarakatu”, kemudian Nana membacakan rincian acara mubalighin di malam itu.

(Singkat cerita), tiba pada acara yang dinanti-nanti yaitu mendengarkan ceramah da’i lokal,”baiklah para hadirin, inilah saat yang dinanti-nanti mari kita dengarkan tausyiah dari K.H. Zaedun Mz yang sengaja kita datangkan langsung dari Bekasi, selamat mendengarkan”, santri-santri sorak sorai sambil bertepuk tangan, ada yang berteriak Hidup Zaedun Mz,….Zae yang masih gemeteran dengan sangat terpaksa maju kearah podium, ada yang unik dari Zae, biasanya setiap mubalighin ceramahnya berdiri dibelakang podium, Zae memilih untuk tampil di luar podium, jadi santri akan sangat jelas melihat gerak dari Zae sewaktu berceramah, dengan memberanikan diri Zae memulai bak Da’i kondang

“Assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatu”

santri-santri menjawab “wa’alaikum salam warah matullahi wabarakatu”

sekedar improve, Zae berkata “ itu saya tahu yang sebelah kanan di belakang yang pakai peci putih belum jawab salam saya ”otomatis santri-santri yang lain pada menengok ke arah kanan sambil ketawa-ketawa.

“saya ulangi salam saya, assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatu” di jawab lagi oleh seluruh santri “wa’alaikum salam warah matullahi wabarakatu” .

"hadirin bahwasannya Allah suka kepada yang ganjil-ganjil, ada baiknya saya mengulang salam supaya ganjil, setuju?...setuju….?”

jawab para santri "Ngga…”

Zae menimpali, "yang Jawab ngga setuju tadi sore belum mandi..., saya ulangi Assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatu” santri semua menjawab begitu ramai “wa’alaikum salam warah matullahi wabarakatu”…..alhamdulillah pada malam ini kita sama-sama dapat berkumpul, bertatap muka, betapa ananda rindu bertemu dikau….saya berdiri di depan saudara-saudara bukan sebagai ahli fatwa maupun ahli ketawa…”serentak santri-santri pada ketawa” , saya hadir di depan saudara karena sudah terlanjur untuk bersuara….betul….betul….?, bergaya ala K.H. Zaenudin Mz beneran.

“ hadirin sekalian, kalimat sibuk adalah kalimat yang sering kita dengar….betapa kalimat sibuk sulit untuk kita hindarkan…..”.

Zae berceramah begitu semangat, hingga tak terasa dalam waktu satu jam Zae mengisi dakwah yang berisi makna, terkadang juga dengan canda dan tawa, anak asrama puas dengan tampilan Zae di mubalighin malam itu, sampai akhirnya Nana menutup acara mubalighin dengan di tutup hiburan bernyanyi qasidah dan jenis musik lainnya dengan alat apa adanya, salah satunya Riki tampil dengan dangdutnya berbusana ala Rhoma Irama, sampai puas para santri bergoyang berjoget, di tengah-tengah halaman asrama.

Sementara Zae bergegas ke masjid untuk melakukan shalat isya, setelahnya Zae menuju warung kopi yang dekat gerbang pondok pesantren, Zae ingin menenangkan pikirannya setelah tadi tampil di asrama, menikmati kopi dan makanan yang ada. Dalam bathin Zae dengan riang berkata “ ini awal aku melangkah untuk menjadi seorang Da’i, mudah-mudahan aku bisa bertahan, amin” sambil terkenang pada Rulli teman karibnya di Bekasi.
Readmore
Prev Next Next

Copyright @ 2011 By. Dina Cerpen